JAKARTA - Pernahkah kamu menyadari suasana khas yang selalu muncul di sudut-sudut jalanan ibu kota menjelang bulan puasa?
Ya, deretan pedagang musiman yang memamerkan buah lonjong kekuningan dengan tekstur kulit yang tampak retak alami.
Buah tersebut adalah timun suri. Bagi warga Jakarta, khususnya masyarakat Betawi, kemunculan buah ini di lapak-lapak pinggir jalan bukan sekadar penanda pergantian bulan dalam kalender Hijriah.
Kehadirannya adalah sebuah pengingat visual dan kultural bahwa bulan suci penuh ampunan telah tiba di depan mata.
Lebih dari sekadar pelengkap menu takjil yang manis di atas meja makan, timun suri menyimpan makna kultural dan simbolis yang sangat kuat.
Baca juga: Banjir Cuan Saat Ramadhan! Pedagang Timun Suri di Pasar Induk Kramat Jati Mampu Jual Tiga Ton Sehari
Artikel ini akan mengajak kamu menyelami filosofi mendalam di balik buah manis nan segar ini, yang telah berabad-abad menjadi ikon tak tergantikan bagi masyarakat Betawi setiap kali Ramadhan menyapa.
Pertanyaan yang sering muncul di benak banyak orang adalah, mengapa timun suri seolah-olah hanya ada saat bulan Ramadhan?
Secara botani, buah yang sebenarnya masih satu keluarga dengan melon dan labu ini (Cucurbitaceae) bisa ditanam kapan saja tanpa harus menunggu bulan-bulan tertentu.
Namun, bagi masyarakat Betawi, fenomena kemunculan timun suri di bulan puasa dimaknai sebagai simbol keberkahan langsung dari Allah SWT.
Buah ini seolah "menunggu" datangnya bulan suci untuk bisa dinikmati oleh umat Islam yang sedang berpuasa.
Tradisi ini sebenarnya tidak lepas dari kecerdikan dan kearifan lokal para petani di sekitar Jakarta dan wilayah penyangganya.
Mereka secara khusus menghitung waktu tanam, biasanya sekitar enam puluh hingga tujuh puluh hari sebelum jatuhnya tanggal satu Ramadhan.
Harapannya, saat umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa, ladang timun suri sudah siap dipanen secara serentak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber