Tugu Salak Condet (Nofa Bom/Google Maps)
JAKARTA - Pernahkah kamu melintasi kawasan Jakarta Timur dan melihat sebuah monumen sederhana berbentuk buah dengan sisik kecokelatan yang khas di tengah persimpangan jalan?
Jika ya, kemungkinan besar kamu sedang menatap salah satu sisa kejayaan agraris ibu kota yang kini mulai terlupakan.
Di tengah gempuran gedung bertingkat dan kemacetan lalu lintas, Tugu Salak Condet berdiri sebagai pengingat bisu bahwa wilayah ini pernah menjadi "kebun buah"-nya Jakarta.
Monumen ini bukan sekadar patung beton semata, melainkan sebuah identitas kultural yang menyimpan memori kolektif warga tentang manisnya buah lokal yang pernah menjadi primadona hingga ke istana negara.
Simak ulasan lengkapnya berikut ini sebelum kamu memutuskan untuk menengok langsung saksi sejarah tersebut.
Baca juga: Misteri Sejarah Pulau Onrust di Kepulauan Seribu: Mengapa Dijuluki sebagai "Pulau Kapal"?
Keberadaan Tugu Salak Condet tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kawasan Condet itu sendiri.
Jauh sebelum menjadi kawasan pemukiman padat seperti sekarang, Condet dikenal sebagai lahan perkebunan yang subur dan asri.
Pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin di tahun 1970-an, kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Betawi, sebuah langkah visioner untuk melestarikan ekosistem budaya dan alam setempat.
Salah satu komoditas utamanya adalah Salak Condet (Salacca zalacca), varietas salak yang terkenal dengan rasa manis masir dan aroma yang khas.
Pembangunan tugu ini didasari oleh keinginan untuk mengabadikan status Condet sebagai penghasil buah unggulan tersebut.
Pada masanya, Salak Condet bukan hanya sekadar buah, melainkan simbol kemakmuran dan kebanggaan warga lokal.
Tugu ini dibangun sebagai penanda wilayah sekaligus monumen penghargaan terhadap alam yang telah menghidupi masyarakat Condet selama bertahun-tahun.
Meskipun kini kebun-kebun salak tersebut telah banyak berganti menjadi deretan pertokoan dan hunian, tugu ini tetap bertahan untuk menceritakan kisah masa lalu kepada generasi muda yang mungkin tidak pernah mencicipi langsung buah legendaris tersebut dari pohonnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber