JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bagaimana nasib anak-anak yang tumbuh besar di lingkungan panti sosial saat mereka pada akhirnya harus kembali menghadapi realitas kehidupan bermasyarakat?
Di tengah riuhnya ibu kota dan kerasnya persaingan hidup, tanpa bekal keahlian yang memadai, bertahan hidup di Jakarta tentu akan menjadi tantangan yang sangat menakutkan bagi mereka.
Berangkat dari keresahan sosial inilah, Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M. Subki, pada Senin (27/4/2026) kembali menyuarakan secara tegas mengenai betapa krusialnya program pelatihan keterampilan yang berkelanjutan.
Tujuannya, memastikan agar lulusan panti memiliki kemandirian finansial seutuhnya dan tidak terus-menerus bergantung pada uluran bantuan dari pemerintah daerah.
Realita di lapangan sering kali menunjukkan bahwa program pelatihan keahlian terkadang hanya sebatas penggugur kewajiban institusi atau sekadar kegiatan seremonial semata.
Baca juga: DPRD DKI Jakarta Siap Sahkan Tiga Raperda Krusial, Pangan Hingga Narkotika Jadi Sorotan
M. Subki menyoroti tajam kebiasaan ini dan meminta dengan tegas agar skema pembekalan bagi anak-anak panti sosial diubah menjadi jauh lebih intensif.
Pelatihan dengan sistem hit-and-run atau yang hanya dilakukan satu kali dinilai tidak akan meninggalkan dampak jangka panjang bagi perkembangan mental maupun penguasaan hard skill anak-anak tersebut.
"Jangan hanya satu kali pelatihan. Harus berkelanjutan dan beragam, supaya ketika keluar dari panti mereka sudah punya keterampilan, seperti memasak atau menjahit," ujar Subki.
Pemberian materi yang bervariatif dan disesuaikan dengan minat serta bakat juga menjadi kunci utama keberhasilan program.
Pembinaan tidak melulu harus terpaku pada keahlian konvensional seperti tata boga atau menjahit, tetapi harus terus dikembangkan.
Dengan memiliki bekal skill yang benar-benar matang dan aplikatif, anak-anak panti sosial ini akan memiliki nilai tawar yang jauh lebih kompetitif saat mereka harus bertarung mencari nafkah.
Keahlian ini juga berfungsi esensial untuk membangun rasa percaya diri mereka saat berbaur kembali dengan masyarakat luas.
Meski memberikan banyak catatan kritis demi perbaikan sistem ke depan, M. Subki tidak lantas menutup mata terhadap kerja keras yang telah dilakukan oleh jajaran eksekutif.
Secara umum, perwakilan dewan tersebut memberikan apresiasi yang cukup tinggi terhadap berbagai program pembinaan yang digagas oleh Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta, yang sejauh ini dinilai sudah berjalan pada jalur yang semestinya.
Indikator keberhasilan ini tidak hanya dilihat dari aktivitas pembinaan nyata di lapangan, melainkan juga dari sisi tata kelola administrasi dan keuangan.
Subki menyebutkan bahwa kinerja serapan anggaran Dinsos DKI Jakarta tergolong sangat baik, yakni telah sukses melampaui angka 80 persen.
Tingginya angka serapan ini menunjukkan bahwa berbagai inisiatif kesejahteraan sosial dan operasional panti telah dieksekusi dengan maksimal.
Namun, apresiasi tersebut tetap diiringi dengan sebuah pengingat penting.
Baca juga: DPRD DKI Jakarta Siap Sahkan Tiga Raperda Krusial, Pangan Hingga Narkotika Jadi Sorotan
Subki menegaskan bahwa proses evaluasi berkala dan perbaikan modul program harus terus dilakukan secara berkesinambungan.
Fokus utamanya adalah memastikan adanya keberlanjutan pendampingan sesaat setelah anak-anak tersebut resmi dinyatakan keluar dari pengawasan panti sosial, agar mereka tidak merasa dilepas begitu saja tanpa arah yang jelas.
Pada akhirnya, pemerintah daerah tidak akan mampu menyelesaikan masalah sosial ini sendirian.
Untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar menjamin kemandirian ekonomi para lulusan panti, kolaborasi lintas sektor menjadi sebuah kewajiban.
Di sinilah kehadiran sektor swasta dan dunia industri di ibu kota sangat dinantikan kiprah nyatanya.
Subki secara khusus mendorong Dinsos DKI Jakarta untuk lebih proaktif dalam merajut kerja sama strategis dengan berbagai perusahaan.
Langkah konkret ini bisa diwujudkan melalui inisiatif penyediaan kuota magang khusus atau jalur rekrutmen langsung.
“Kerja sama dengan perusahaan swasta penting, agar ada dukungan dalam penyerapan tenaga kerja,” tandasnya.
Melalui komitmen kuat dari dunia usaha, lulusan panti tidak hanya sekadar pulang membawa selembar sertifikat pelatihan.
Mereka akan mendapatkan perlindungan sosial berupa peluang kerja nyata, membuka lembaran hidup baru sebagai individu yang berdaya, tangguh, dan mampu berkontribusi positif bagi roda perekonomian Jakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta