JAKARTA - Pernahkah kamu menyadari bahwa belakangan ini sungai-sungai di Jakarta lebih banyak didominasi oleh satu jenis ikan yang seolah tak kenal mati?
Ya, ikan sapu-sapu. Sekilas, kehadirannya mungkin terlihat biasa saja, namun tahukah kamu bahwa populasi ikan ini sudah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan?
Dominasi spesies invasif ini bukan sekadar masalah estetika sungai, melainkan alarm bahaya bagi ekosistem perairan ibu kota.
Menanggapi kondisi kritis ini, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, M Taufik Zoelkifli (MTZ), secara tegas mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu.
Kebijakan strategis ini dinilai sebagai langkah nyata Pemprov DKI dalam menjaga kelestarian lingkungan Jakarta yang disampaikan pada Sabtu (18/4/2026).
Ikan Sapu-Sapu Jadi Penyebab Terganggunya Keseimbangan Ekosistem
Bagi sebagian orang, keberadaan ikan sapu-sapu di bantaran sungai Jakarta dianggap sebagai hal lumrah. Namun, bagi para ahli lingkungan dan pembuat kebijakan, fenomena ini adalah tanda bahaya alam.
Taufik menyoroti bahwa dominasi masif ikan ini merupakan simbol paling nyata dari "terganggunya keseimbangan ekosistem" di perairan ibu kota.
“Ikan sapu-sapu ini bukan sekadar persoalan jenis ikan, tetapi simbol terganggunya keseimbangan ekosistem. Ketika spesies invasif mendominasi hingga lebih dari 60 persen, itu menandakan kondisi alam yang tidak sehat,” ujar Taufik.
Angka 60 persen tersebut menjadi bukti valid bahwa sungai Jakarta membutuhkan intervensi segera agar keanekaragaman hayati lokal tidak punah ditelan spesies pendatang.
Baca juga: Serius Perangi Ikan Sapu-sapu, Pemprov DKI Perluas Area Operasi
Butuh Langkah Terukur, Bukan Sekadar Simbolik
Meskipun mendukung penuh inisiatif Gubernur Pramono Anung, Taufik memberikan catatan penting.
Ia mengingatkan agar pengendalian ikan sapu-sapu ini tidak berakhir sebagai program musiman yang bersifat sesaat atau sekadar simbolik demi citra birokrasi.
Langkah ini harus bertransformasi menjadi kebijakan ekologis yang berkelanjutan dan terukur.
Pemprov dituntut untuk menetapkan target spesifik berbasis data ilmiah.
Menariknya, Taufik menyarankan agar Pemprov tidak memusnahkan ikan ini secara total tanpa perhitungan, karena penghilangan suatu spesies secara tiba-tiba dari sebuah ekosistem berpotensi memicu dampak ekologi sekunder yang tak terduga.
“Kalau tidak dirancang dengan baik, upaya ini hanya akan menyelesaikan masalah di permukaan, sementara akar persoalan tetap ada,” katanya.
Oleh karena itu, pemetaan wilayah prioritas sungai dan evaluasi berkala menjadi hal yang mutlak.
Ia juga memastikan bahwa DPRD DKI Jakarta akan menjalankan fungsi pengawasannya agar program ini masuk dalam rencana kerja tahunan secara konsisten, lengkap dengan dukungan anggaran yang memadai.
Ancaman Kesehatan Publik dan Strategi Pengawasan Pasar
Selain ancaman ekologi, ada bahaya laten yang mengintai di balik konsumsi ikan sapu-sapu hasil tangkapan perairan Jakarta.
Mengingat sebagian sungai di Jakarta tercemar limbah industri dan rumah tangga, daging ikan sapu-sapu sangat rentan menyerap residu beracun.
Jika dibiarkan diperjualbelikan dan dikonsumsi warga, persoalan lingkungan ini bisa meledak menjadi krisis kesehatan publik.
Untuk mencegah tragedi tersebut, Taufik mengusulkan tiga langkah pencegahan yang komprehensif, di antaranya:
1. Edukasi Publik yang Masif
Mengedukasi kamu dan seluruh masyarakat agar lebih cerdas dan selektif dalam memilih ikan untuk dikonsumsi harian, serta mengenali ciri ikan dari perairan tercemar.
2. Pengawasan Ketat Rantai Pangan
Memperketat inspeksi di pasar-pasar tradisional agar ikan sapu-sapu yang mengandung residu logam berat tidak merembes masuk ke meja makan warga Jakarta.
3. Penegakan Hukum
Menindak tegas oknum atau pihak tidak bertanggung jawab yang sengaja memperjualbelikan ikan beracun tersebut secara ilegal demi meraup keuntungan pribadi.
“Kita tidak boleh membiarkan masyarakat menjadi korban karena kurangnya informasi, pengawasan, dan penegakan aturan,” ucapnya dengan nada peringatan.
Baca juga: Viral Ribuan Ikan Sapu-sapu Mati Mengapung di Kali Baru, Riza Patria Buka Suara
Mengembalikan Kejayaan Sungai Jakarta
Pengendalian populasi spesies invasif pada akhirnya hanyalah langkah pertolongan pertama.
Sebagai solusi jangka panjang, Taufik mendorong adanya restorasi ekosistem sungai secara holistik.
Setelah populasi ikan sapu-sapu berhasil ditekan ke batas aman, Pemprov DKI harus segera melakukan restocking atau penebaran kembali bibit ikan lokal asli perairan Jakarta yang kini mulai langka.
Lebih dari itu, rehabilitasi kualitas baku mutu air dan penataan lanskap sungai mutlak diperlukan.
Penanganan masalah ini tentu membutuhkan pelibatan seluruh elemen kota, mulai dari komunitas peduli lingkungan, akademisi, hingga kamu sebagai warga yang peduli.
“Ini harus menjadi gerakan ekologis bersama, bukan hanya program pemerintah,” tegas Taufik.
“Alam yang seimbang bukan hanya mengurangi yang salah, tetapi juga menghadirkan kembali yang benar. Kita ingin Jakarta tidak hanya bersih di permukaan, tetapi juga sehat secara ekosistem,” tandasnya.
Melalui kolaborasi yang kuat, harapan untuk melihat sungai-sungai di Jakarta kembali jernih dan lestari bukanlah suatu kemustahilan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta