Kamis, 04 JUNI 2026 • 18:31 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah dan Asal-Usul Terbentuknya Provinsi DKI Jakarta yang Harus Kamu Tahu!

Author

Monumen Nasional (Monas) (Affan Fadhlan/Unsplash)

JAKARTA - Pernah nggak sih kamu ngebayangin gimana rupa Jakarta sebelum dipenuhi gedung pencakar langit, transportasi modern, dan kemacetan yang kadang bikin overthinking?

Sebagai kota megapolitan yang nggak pernah tidur, Jakarta kini menjadi pusat segalanya di Indonesia.

Tapi, tahukah kamu kalau kota sebesar ini ternyata cuma berawal dari sebuah pelabuhan kecil di estuari Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun yang lalu? 

Bukti sejarah ini bukan sekadar mitos, lho. Kamu bisa menemukan rekam jejak awal mula Jakarta lewat beberapa prasasti kuno yang ditemukan di sekitar kawasan pelabuhan dan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

Lewat artikel ini, kita bakal time travel bareng menelusuri rekam jejak, tokoh penting, hingga momen bersejarah yang mengubah wajah ibu kota dari masa ke masa.

Yuk, simak sejarah terbentuknya Provinsi DKI Jakarta dari dulu hingga saat ini!

Dari Sunda Kalapa Menjadi Jayakarta

Melansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, nama Jakarta sendiri belum eksis seperti saat ini di abad ke-14 silam.

Lokasi pesisir ini dikenal luas sebagai Sunda Kalapa, sebuah pelabuhan utama milik Kerajaan Padjadjaran yang super sibuk.

Karena posisinya yang strategis, pelabuhan ini jadi titik kumpul atau tempat perniagaan para pengembara dan pedagang dari berbagai bangsa di dunia, termasuk Portugis yang saat itu mulai mendirikan pusat perniagaannya.

Titik balik pertama dalam sejarah terbentuknya Jakarta terjadi pada 22 Juni 1527.

Kala itu, Pangeran Fatahillah melakukan serangan bersejarah untuk mengusir pengaruh asing dan berhasil merebut pelabuhan ini.

Nah, sejak momen kemenangan itulah nama Sunda Kalapa diganti menjadi Jayakarta. Tanggal penyerangan 22 Juni ini juga yang sampai sekarang selalu kita rayakan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta.

Baca juga: Vibes Klasik Pelabuhan Sunda Kelapa: Mengulik Sejarah Epik Cikal Bakal Berdirinya Jakarta

Konsep Kota Ala Kincir Angin di Era Kolonial

Masuk ke abad ke-16, tepatnya mulai 4 Maret 1621, kongsi dagang VOC asal Belanda datang mengambil alih kekuasaan Jayakarta.

Mereka kemudian merubah namanya menjadi Stad Batavia, sebuah nama yang terinspirasi dari "Batavieren", yakni sebutan untuk nenek moyang bangsa Belanda.

Pemerintah kolonial Belanda sadar kalau letak geografis Batavia yang ada di pesisir ini mirip banget sama negara asal mereka.

Makanya, mereka mulai membangun kota ini dengan sistem kanal air yang tujuannya untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir.

Seiring berjalannya waktu, status administratif wilayah ini juga sempat berganti nama menjadi Gemeente Batavia pada 1 April 1905, lalu Stad Gemeente Batavia di tahun 1935.

Karena pesisir dirasa kurang ideal, pemerintah kolonial akhirnya memindahkan pusat pemerintahan ke daratan yang lebih tinggi dan menamakannya Weltevreden (sekarang kawasan Jakarta Pusat).

Sumpah Pemuda dan Lahirnya Nama Jakarta

Memasuki awal abad ke-20, Batavia mulai berubah fungsi. Bukan cuma jadi pusat pergerakan ekonomi, tempat ini menjelma jadi pusat pergerakan nasional anak-anak muda, yang ditandai dengan momen epik Kongres Pemuda Kedua di tahun 1928.

Perubahan nama kembali terjadi saat pasukan Jepang mendarat di Indonesia akibat Perang Dunia II.

Pada 8 Agustus 1942, Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta Tokubetsu Shi. 

Nama "Jakarta" inilah yang akhirnya terus melekat sampai Proklamasi Kemerdekaan pada September 1945, di mana kota ini langsung difungsikan sebagai pusat kegiatan politik dengan nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

Baca juga: Menyelami Sejarah dan Asal-Usul Kampung Bandan di Jakarta Utara yang Penuh Cerita Seru

Transformasi Menjadi Provinsi Megapolitan

Perjalanan Jakarta buat jadi provinsi mandiri itu cukup panjang dan dipenuhi banyak transisi aturan pemerintahan.

Setelah merdeka, namanya sempat diubah jadi Praj'a Jakarta pada 28 Maret 1950.

Kemudian pada 18 Januari 1958, Jakarta sempat menjadi daerah otonom dengan nama Kotamadya Djakarta Raya yang secara struktur masih berada di bawah Provinsi Jawa Barat.

Barulah pada tahun 1959, Jakarta resmi "naik level" alias berubah statusnya menjadi Daerah Tingkat Satu (Provinsi) yang dipimpin langsung oleh seorang Gubernur.

Momen krusial berikutnya terjadi pada tahun 1961 saat statusnya diubah menjadi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI).

Puncaknya, pada 31 Agustus 1964, Jakarta Raya resmi disahkan sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Status otonomi khusus ini terus diperbarui lewat UU No. 34 Tahun 1999, dan akhirnya dikukuhkan melalui UU No. 29 Tahun 2007 sebagai Provinsi DKI Jakarta.

Kini, Jakarta terus melesat menjadi salah satu kota megapolitan terbesar di dunia.

Kehidupan perkotaan yang semarak, perpaduan warisan budaya sejarah, hingga deretan destinasi kelas dunia membuktikan bahwa Jakarta bukan hanya sebagai pusat bisnis, melainkan identitas bangsa yang terus berkembang mengikuti zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU