JAKARTA - Pernah nggak sih kamu nongkrong di cafe aesthetic sekitaran Kota Tua Jakarta, lalu mikir, "Sebenarnya, dari mana sih titik nol kota metropolitan sebesar Jakarta ini bermula?"
Sebagai pemandu wisata heritage yang sering wara-wiri memandu tur sejarah di pesisir utara, saya sering banget ngajak anak muda buat time travel sejenak ke Pelabuhan Sunda Kelapa.
Tempat ini bukan sekadar deretan kapal kayu tua yang estetik buat feed Instagram, lho. Lebih dari itu, pelabuhan legendaris yang berlokasi di Jakarta Utara ini adalah cikal bakal lahirnya kota tempat kita berpijak.
Lewat artikel ini, yuk kita bedah bareng rekam jejak historis Sunda Kelapa, mulai dari era kerajaan kuno, monopoli perdagangan VOC, sampai akhirnya menjelma jadi spot wisata sejarah yang super ikonik!
Banyak yang mengira kalau tata kota Jakarta itu murni dibangun pada zaman penjajahan Belanda.
Baca juga: Pusat Konektivitas Maritim, Inilah Deretan Pelabuhan Tersibuk di Kawasan DKI Jakarta!
Padahal, fun fact dari catatan National Geographic Indonesia menyebutkan bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa sejatinya sudah eksis sejak abad ke-5 di bawah kendali Kerajaan Tarumanegara.
Pamornya makin meroket dan mencapai era kejayaan ketika jatuh ke tangan Kerajaan Sunda pada abad ke-12.
Berkat posisinya yang super strategis di urat nadi perdagangan laut Jawa, pelabuhan ini berubah menjadi hub internasional.
Kapal-kapal saudagar dari Tiongkok, Arab, India, Inggris, hingga Portugis rutin bersandar di sini untuk berburu rempah-rempah Nusantara.
Keakraban Kerajaan Sunda yang sampai memberikan izin kepada bangsa Portugis untuk membangun kantor dagang ternyata bikin Kesultanan Demak merasa insecure.
Mereka melihat persekutuan ini sebagai ancaman serius bagi dominasi Nusantara.
Akhirnya, pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Demak-Cirebon yang dipimpin oleh Fatahillah melakukan serangan telak, sukses merebut Sunda Kelapa, dan langsung me-rebranding namanya menjadi Jayakarta.
Tanggal bersejarah inilah yang sampai detik ini selalu kita rayakan sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta.
Masuk ke tahun 1596, rombongan ekspedisi Belanda di bawah komando Cornelis de Houtman landing perdana di pelabuhan ini.
Niat awal mereka cukup simple: mencari supply rempah-rempah buat diangkut ke Eropa karena komoditas ini laku keras sebagai obat dan bahan wangi-wangian.
Singkat cerita, pada tahun 1610, Belanda main cantik dengan membuat kesepakatan diplomatik bersama Pangeran Jayawikarta agar diizinkan membangun pos dagang di timur muara Sungai Ciliwung.
Cuan yang mengalir deras dari bisnis rempah bikin VOC makin agresif. Mereka sukses melakukan ekspansi, mengambil alih kontrol penuh atas Jayakarta, dan mengganti namanya menjadi Batavia.
Di bawah kuasa kolonial Belanda, infrastruktur pelabuhan di-upgrade habis-habisan.
Kanal perairan yang awalnya cuma sepanjang 810 meter diperluas menjadi 1.825 meter untuk menampung lebih banyak kapal dagang Eropa.
Sayangnya, roda kehidupan berputar dan masa keemasan itu harus meredup saat memasuki abad ke-19.
Terjadinya pendangkalan air laut di area muara bikin kapal-kapal raksasa dari tengah laut susah merapat.
Ironisnya, di saat Terusan Suez baru saja dibuka dan seharusnya bisa membawa lalu lintas perdagangan yang lebih masif, Sunda Kelapa malah stuck.
Belanda akhirnya move on dan membangun fasilitas pelabuhan baru di kawasan Tanjung Priok. Otomatis, peran sentral Pelabuhan Sunda Kelapa pun tergantikan.
Meskipun secara resmi nama "Sunda Kelapa" baru dipatenkan kembali lewat SK Gubernur DKI Jakarta pada 6 Maret 1974, napas pelabuhan ini nggak pernah benar-benar mati.
Sekarang, kalau kamu healing ke sini, kamu masih bisa melihat aktivitas bongkar muat kargo antar-pulau menggunakan kapal pinisi tradisional yang vibes-nya magis banget.
Sebagai sejarawan maritim, saya selalu takjub melihat deretan kapal kayu bersandar berdampingan mempertahankan tradisi maritim kuno di tengah modernisasi Jakarta.
Ditambah lagi, bangunan-bangunan kolonial peninggalan Belanda di sekitarnya kini sudah dialihfungsikan menjadi destinasi wisata museum yang kece, seperti Museum Bahari, Museum Fatahillah, hingga Museum Wayang.
Jadi, kalau weekend besok kamu butuh pelarian dari rutinitas yang sumpek, cobain deh mampir ke Sunda Kelapa.
Kamu nggak cuma dapet foto-foto yang ciamik, tapi juga bisa menyelami denyut nadi sejarah maritim yang menjadi fondasi utama kota Jakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: National Geographic Indonesia