Selasa, 07 APRIL 2026 • 09:43 WIB

Menelusuri Pura Aditya Jaya, Sejarah dan Panduan Wisata Spiritual di Pura Tertua Kawasan Ibu Kota

Author

Pura Aditya Jaya (Manual Jakarta)

JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk ibu kota Jakarta yang dipenuhi belantara gedung pencakar langit dan kemacetan, pernahkah kamu mendambakan oase ketenangan untuk menyegarkan pikiran?

Jika iya, kamu tidak perlu repot menghabiskan waktu dan biaya terbang ke Bali. 

Tersembunyi di balik rindangnya kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, berdirilah Pura Aditya Jaya, pura Hindu tertua di DKI Jakarta.

Sejak mulai dibangun pada awal dekade 1970-an, tempat suci ini bukan hanya menjadi pusat peribadatan utama bagi umat Hindu, tetapi juga saksi bisu harmonisasi keberagaman ibu kota.

Melalui artikel ini, kita akan menjelajahi jejak sejarah, keunikan arsitektur, hingga panduan etika saat berkunjung ke pura bersejarah ini secara mendalam.

Baca juga: Liburan Sehari di Jakarta? Ini 4 Spot Wisata Ikonik yang Wajib Banget Kamu Eksplorasi!

Jejak Sejarah Awal Berdirinya Pura Aditya Jaya

Keberadaan Pura Aditya Jaya tidak lepas dari kerinduan umat Hindu, khususnya perantau asal Bali, akan tempat ibadah yang memadai.

Pada era 1960-an, umat Hindu di ibu kota kesulitan menemukan lokasi persembahyangan komunal yang representatif.

Barulah awal tahun 1970-an, komunitas Hindu menginisiasi pembangunan pura ini secara gotong royong.

Pembangunan fisik mulai dikerjakan pada tahun 1972 di atas lahan yang difasilitasi pemerintah daerah kala itu.

Momen bersejarah puncaknya terjadi ketika pura diresmikan melalui tahapan ritual suci, hingga berdiri megah seperti saat ini.

Nama "Aditya Jaya" mengandung makna filosofis yang mendalam. Kata Aditya merujuk pada Dewa Matahari yang memberikan cahaya kehidupan, sementara Jaya berarti kejayaan.

Jadi, pura ini diharapkan menjadi sumber cahaya kedamaian yang selalu berjaya menyinari umatnya di tengah dinamika ibu kota.

Keunikan Arsitektur Autentik Khas Pulau Dewata

Begitu kamu menginjakkan kaki di depan gerbang utama, kamu akan langsung disambut oleh nuansa arsitektur khas Bali yang sangat kental dan menawan.

Pura Aditya Jaya dirancang secara presisi dengan berpegang teguh pada konsep Tri Mandala, yaitu pembagian tata ruang menjadi tiga zona suci.

Pertama, Nista Mandala atau area terluar yang berfungsi sebagai tempat persiapan umat.

Kedua, Madya Mandala atau area tengah yang ditandai dengan gerbang Candi Bentar artistik, tempat berlangsungnya kegiatan penunjang upacara keagamaan.

Ketiga, Utama Mandala yang merupakan area paling suci, dibatasi oleh Kori Agung menuju area pemujaan inti.

Di sinilah terdapat Padmasana yang menjulang tinggi sebagai singgasana Sang Hyang Widhi Wasa.

Baca juga: 5 Rekomendasi Museum Estetik di Jakarta, Destinasi Akhir Pekan yang Wajib Kamu Kunjungi!

Detail ukiran batu yang rumit dan material bata merah ekspos membuat kamu lupa sedang berada di Jakarta Timur.

Merasakan Momen Spiritual yang Menenangkan Batin

Meskipun berlokasi di kawasan Jakarta Timur yang terkenal padat, suasana di dalam area Pura Aditya Jaya terasa sangat hening, sejuk, dan asri karena dinaungi oleh pepohonan beringin dan kamboja yang rindang.

Momen spiritual paling magis dan indah biasanya sangat terasa saat perayaan hari besar agama Hindu, seperti perayaan Galungan, Kuningan, Saraswati, atau saat menjelang perayaan Nyepi.

Pada hari-hari suci tersebut, pura akan dipenuhi oleh ribuan umat yang mengenakan pakaian adat dominan warna putih dan kuning, membawa banten atau sesajen berisi bunga, serta melantunkan bait-bait kidung suci yang diiringi sayup-sayup ritme gamelan Bali.

Namun, jika kamu datang di hari biasa untuk sekadar mencari kedamaian, kamu tetap bisa merasakan ketenangan batin yang mendalam.

Aroma wangi dupa yang khas dan suasana yang sangat hening sangat cocok bagi kamu yang ingin sejenak menjauh dari stres rutinitas pekerjaan.

Adab dan Etika Berkunjung ke Pura Aditya Jaya

Sebagai sebuah kawasan suci, terdapat sejumlah aturan ketat yang wajib kamu hormati saat berkunjung ke Pura Aditya Jaya.

Pertama dan yang paling utama, kamu diwajibkan mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup.

Sebelum memasuki area dalam pura, setiap pengunjung baik umat yang memang ingin beribadah maupun masyarakat umum yang berwisata harus mengenakan kamen (kain sarung khas) dan selendang kuning yang diikatkan di pinggang.

Selain itu, bagi pengunjung wanita yang sedang dalam masa menstruasi (haid), secara hukum adat dilarang keras untuk memasuki area suci pura karena dianggap sedang dalam kondisi cuntaka atau kurang suci secara spiritual.

Kamu juga diwajibkan untuk selalu menjaga tutur kata, tidak membuat kegaduhan, membuang sampah pada tempatnya, dan dilarang berjalan melintas tepat di depan umat yang sedang khusyuk bersembahyang.

Menghargai aturan-aturan tak tertulis ini adalah bentuk toleransi.

Panduan Akses Menuju Lokasi Pura Aditya Jaya

Menuju Pura Aditya Jaya sangatlah mudah dan praktis karena lokasinya yang terbilang strategis, tepatnya berada di Jalan Daksinapati Raya, kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Jika kamu menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa mengarahkan sistem navigasi digital menuju area kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), karena pura ini berada persis di belakang kompleks kampus tersebut dan tidak jauh dari Jakarta International Velodrome.

Baca juga: Wisata Religi di Kepulauan Seribu: Menelusuri Jejak "Healing" Spiritual di Makam Habib Ali bin Ahmad bin Zein Al-Aidid

Bagi kamu para komuter pengguna transportasi umum, opsi paling efisien adalah menggunakan layanan bus Transjakarta.

Kamu bisa memilih untuk turun di Halte Pemuda Rawamangun atau Halte UNJ, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki santai sekitar 10 hingga 15 menit saja.

Mengunjungi Pura Aditya Jaya bukan sekadar perjalanan rekreasi biasa, melainkan pengalaman spiritual yang indah yang wajib kamu coba!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU