Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu (Ancol.com)
JAKARTA - Pernahkah kamu merasa jenuh dengan rutinitas ngabuburit di tengah kemacetan aspal ibu kota atau pusat perbelanjaan yang padat merayap?
Tradisi menunggu adzan magrib menjelang berbuka puasa di bulan suci Ramadhan memang selalu menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali di DKI Jakarta.
Namun, jika kamu mencari nuansa pelarian yang menyegarkan dari hiruk-pikuk perkotaan, ada sebuah surga tersembunyi yang menawarkan pengalaman spiritual dan visual yang sama sekali berbeda.
Menghabiskan sore di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu berarti menukar suara klakson kendaraan dengan deburan ombak, dan menukar gedung pencakar langit dengan hamparan laut tak berbatas di bawah pendar cahaya jingga yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
Artikel ini akan memandu kamu menjelajahi enam lokasi ngabuburit paling eksotis di Kepulauan Seribu yang menjanjikan ketenangan batin sebelum waktu berbuka tiba.
Tradisi ngabuburit di Kepulauan Seribu dilakukan oleh warga lokal maupun wisatawan setiap sore hari selama bulan Ramadhan.
Alasan di balik tingginya antusiasme ini sangat sederhana: masyarakat mencari momen kebersamaan dan refleksi diri di tengah simfoni alam yang menenangkan.
Dibandingkan dengan kegiatan di daratan Jakarta, warga di sini biasanya menghabiskan waktu dengan cara yang jauh lebih organik, seperti berjalan santai menyusuri pesisir, bersepeda keliling pulau, berswafoto bersama keluarga, atau sekadar duduk diam meresapi keindahan senja.
Melansir laman resmi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, berikut adalah daftar rekomendasi spot ngabuburit terbaik di berbagai kelurahan yang ada Kepulauan Seribu.
Kelurahan Pulau Untung Jawa selalu memiliki daya tarik magis saat sore menjelang berbuka puasa tiba.
Suasana pesisir terasa begitu hidup, terutama di beberapa titik favorit masyarakat seperti Pantai Sakura, Dermaga Utama, dan Jembatan Pengantin.
Jika kamu berkunjung ke area ini, kamu akan disuguhi siluet indah dari perahu-perahu nelayan tradisional yang perlahan merapat kembali ke dermaga setelah seharian melaut.
Pemandangan rutinitas nelayan ini, dipadukan dengan langit sore yang mulai meredup dan berubah warna, menciptakan harmoni visual yang sangat syahdu sembari menanti adzan magrib berkumandang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pulauseribu.jakarta.go.id