Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 09:12 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Klenteng Kim Tek Le: Mutiara di Jantung Glodok yang Tak Lekang oleh Waktu

Menelusuri Jejak Sejarah Klenteng Kim Tek Le: Mutiara di Jantung Glodok yang Tak Lekang oleh WaktuKlenteng Kim Tek Le, Glodok, Jakarta Barat (Gunawan Kartapranata/Wikipedia)

JAKARTA - Bayangkan kamu sedang berjalan di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional, di mana aroma dupa yang khas perlahan mulai menyamarkan bau aspal panas dan keriuhan pedagang.

Di antara gang-gang sempit kawasan Glodok, Jakarta Barat, berdiri sebuah bangunan dengan arsitektur Tiongkok klasik yang seolah menjadi portal waktu ke masa lalu.

Bangunan itu bukan sekadar tempat ibadah biasa, ia adalah saksi bisu perjalanan panjang kota Jakarta selama lebih dari tiga setengah abad.

Inilah Vihara Dharma Bhakti, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama aslinya, Klenteng Kim Tek Ie.

Sebagai salah satu klenteng tertua di Jakarta, tempat ini menyimpan lapisan sejarah, tragedi, dan kebangkitan yang membentuk identitas komunitas Tionghoa di Indonesia.

Baca juga: Mencari Ketenangan di Tengah Kota: 3 Rekomendasi Masjid untuk Itikaf di Jakarta Pusat

Mari kita telusuri lebih dalam mengapa tempat ini begitu istimewa dan tetap relevan hingga detik ini.

Sejarah Panjang di Balik Dinding Merah

Untuk memahami jiwa dari Klenteng Kim Tek Ie, kamu harus memutar waktu kembali ke tahun 1650. Klenteng ini didirikan oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen.

Pada awalnya, tempat ini diberi nama Guan Yin Ting (Kwan Im Teng), yang didedikasikan untuk Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih.

Menariknya, dari kata Guan Yin Ting inilah istilah "Klenteng" dalam bahasa Indonesia diduga berasal, karena bunyi lonceng dan genta yang terdengar "teng-teng" atau pelafalan lokal dari kata Ting (paviliun).

Namun, sejarah tempat ini tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1740, sebuah peristiwa kelam yang dikenal sebagai Geger Pacinan atau Tragedi Angke terjadi di Batavia.

Kerusuhan besar-besaran ini mengakibatkan pembantaian etnis Tionghoa oleh pemerintahan kolonial Belanda, dan Klenteng Guan Yin Ting pun tidak luput dari amuk massa hingga hangus terbakar.

Satu setengah dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1755, Kapitan Oei Tjhie mengambil inisiatif untuk membangun kembali reruntuhan tersebut.

Ia kemudian mengganti namanya menjadi Kim Tek Ie (Jin De Yuan), yang secara harfiah berarti "Klenteng Kebajikan Emas".

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERBARU

Menelusuri Jejak Sejarah Klenteng Kim Tek Le: Mutiara di Jantung Glodok yang Tak Lekang oleh Waktu

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!