Selasa, 16 JUNI 2026 • 16:21 WIB

Boleh Nggak Sih Merayakan Tahun Baru Islam? Ini Penjelasan Ulama yang Wajib Kamu Tahu!

Author

Ilustrasi Kubah Masjid (Ian Taylor/Unsplash)

JAKARTA - Pernahkah kamu bertanya-tanya, sebenarnya boleh nggak sih kita merayakan Tahun Baru Islam?

Setiap tanggal 1 Muharram tiba, linimasa media sosial biasanya penuh dengan ucapan selamat, pawai obor di berbagai daerah, hingga ragam kajian spesial untuk menyambut pergantian tahun Hijriah.

Namun, di tengah semarak perayaan tersebut, kerap muncul perdebatan mengenai hukum pelaksanaannya.

Sebagian orang menganggapnya sebagai bid'ah, sementara yang lain melihatnya sebagai momen positif untuk syiar agama. 

Biar kamu nggak bingung dan salah kaprah, artikel ini akan membedah secara ringkas pandangan para ulama terkait hukum merayakan Tahun Baru Islam.

Baca juga: Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Besok, Rayakan Libur 1 Muharam Tanpa Beban Tilang

Sebelum masuk ke hukum perayaannya, kamu perlu tahu dulu seberapa spesial bulan Muharram. Muharram adalah satu dari empat bulan haram (suci) yang sangat dimuliakan dalam ajaran Islam.

Hal ini secara tegas disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim dari Abu Bakrah RA.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa zaman berputar sejak Allah SWT menciptakan langit dan bumi, dan dari 12 bulan yang ada, terdapat empat bulan haram yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.

Karena kesuciannya, umat muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan ini.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah hal yang lumrah, termasuk soal perayaan 1 Muharram ini.

Secara garis besar, pandangan mereka terbagi menjadi dua sisi.

Pandangan yang Tidak Membolehkan

Sebagian ulama berpendapat bahwa perayaan atau sekadar mengucapkan selamat Tahun Baru Hijriah bukanlah bagian dari syariat Islam yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW.

Berdasarkan buku Fikih Keseharian karya Hafidz Muftisany, ulama terkemuka asal Arab Saudi, Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, termasuk yang berpegang teguh pada pandangan ini.

Melalui fatwanya dalam Mausu'ah al-Liqa asy-Syahri, Syekh al-Utsaimin menjelaskan bahwa muslim tidak dianjurkan untuk menjadi pihak yang pertama kali memulai ucapan selamat tahun baru.

Namun, fatwa ini cukup adil dan fleksibel, jika ada orang lain yang lebih dulu mengucapkan selamat kepadamu, maka tidak masalah untuk membalas doa atau ucapan tersebut.

Pandangan yang Membolehkan

Di sisi lain, banyak ulama yang memperbolehkan peringatan ini dengan catatan tujuannya adalah murni kebaikan.

Salah satunya adalah Pengasuh LPD Al Bahjah Cirebon, KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya.

Buya Yahya menegaskan bahwa merayakan 1 Muharram bukanlah sebuah bid'ah, asalkan kita tidak menganggapnya sebagai "Hari Raya" baru.

Baca juga: Sambut 1 Muharam dengan Meriah, Warga Rantau Prapat Gelar Pawai Obor

Dalam Islam, hari raya tetaplah hanya Idul Fitri dan Idul Adha. Tujuan dari perayaan Muharram adalah murni untuk menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Mengingat penanggalan Hijriah pertama kali diinisiasi oleh Khalifah Umar bin Khattab RA, momen ini sangat pas untuk edukasi.

"Kita ingin membiasakan anak-anak kita dengan sesuatu yang ada hubungannya dengan Islam," ujar Buya Yahya, dikutip detik Hikmah.

Momen 1 Muharram menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan kembali identitas Islam kepada masyarakat awam dan generasi muda yang mungkin tidak hafal nama-nama bulan Hijriah.

Pandangan yang membolehkan juga didukung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.

Saat berbicara dalam acara Ngaji Budaya di Jakarta pertengahan 2025 lalu, beliau dengan tegas menyatakan bahwa peringatan 1 Muharram bukanlah praktik melestarikan bid'ah.

Menag justru mengajak umat muslim untuk melihat momen ini dari perspektif yang lebih luas, seperti ekoteologi atau hubungan spiritual manusia dengan alam.

Momen pergantian tahun Hijriah adalah waktu yang tepat untuk menajamkan hati nurani, bukan sekadar mengandalkan ketajaman akal.

Hal ini tentu jadi pengingat bagi kamu untuk merefleksikan tanggung jawab spiritual dalam menjaga alam ciptaan Tuhan dengan penuh kesadaran.

Kesimpulannya, perbedaan pandangan mengenai hukum merayakan Tahun Baru Islam tidak perlu dijadikan bahan perdebatan panas.

Jika kamu memilih untuk tidak merayakannya, itu adalah hak yang berlandaskan dalil kuat.

Namun, jika kamu memanfaatkannya sebagai momen introspeksi diri dan mengingat sejarah Islam, hal itu pun membawa kebaikan.

Yang terpenting, jadikan momen 1 Muharram sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Detik Hikmah

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU