JAKARTA - Momen perayaan Idul Adha memang selalu identik dengan pesta pora olahan daging.
Mulai dari sate kambing muda, rendang sapi pedas, hingga gulai yang creamy dan menggugah selera, semuanya seakan memanggil untuk segera disantap.
Nggak heran, banyak dari kita yang sering kali 'kalap' dan makan hidangan daging kurban secara berlebihan saat berkumpul bareng keluarga atau teman-teman.
Namun, euforia makan enak ini biasanya langsung disusul dengan keluhan perut begah, kembung, hingga overthinking karena takut angka kolesterol di tubuh tiba-tiba naik.
Ujung-ujungnya, tren melakukan detoks pencernaan atau meminum produk pembersih usus sering kali jadi jalan pintas yang dipilih banyak anak muda untuk 'menebus dosa' setelah makan banyak.
Baca juga: Pasar Induk Kramat Jati Bagikan 6.000 Paket Daging Kurban Pakai Besek Bambu
Tapi, pertanyaannya, apakah tren nge-detoks pencernaan ini benar-benar wajib dilakukan untuk membersihkan sisa daging dari perut menurut kacamata medis? Atau itu cuma mitos kesehatan belaka?
Buat kamu yang udah bersiap checkout berbagai produk minuman detoks, mending hold dulu niatmu.
Berdasarkan penjelasan langsung dari spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, detoks pencernaan setelah menyantap daging kurban sejatinya sama sekali tidak perlu kamu lakukan.
Alih-alih menyiksa perut dengan proses detoks yang belum tentu aman, dr. Aru justru menekankan bahwa tubuh kita sudah punya sistem pembersihan alaminya sendiri, asalkan kamu menerapkan mindful eating.
"Sebenarnya saya rasa keseimbangan pola makan saja sudah cukup. Seperti kalau kita makan daging, protein harus diimbangi dengan serat yang cukup, harus diimbangi juga dengan karbohidrat yang cukup. Yang penting jangan berlebih," ungkap dr. Aru.
Menyantap daging sate atau rendang sesekali memang nggak masalah, tapi kamu harus ekstra waspada kalau mengonsumsinya secara barbar, apalagi jika tubuhmu punya riwayat penyakit tertentu. dr. Aru menyarankan untuk selalu ngerem konsumsi protein hewani dan karbohidrat berlebih, terutama buat kamu yang mengidap hipertensi, kolesterol, maupun diabetes.
Tumpukan daging yang dikonsumsi secara berlebihan bisa memperparah kondisi tubuh dan memicu gangguan metabolik yang serius.
Dampaknya cukup mengerikan; tekanan darah tinggi bisa tiba-tiba kambuh, sementara kadar gula darah berisiko melonjak tajam.
Jangan sampai momen perayaan yang vibes-nya happy ini malah bikin kamu berakhir dengan obat-obatan dokter.
Pernah ngerasa perut terasa sangat berat dan kembung berjam-jam setelah asyik makan daging kurban? Secara medis, itu adalah hal yang wajar.
Beberapa penelitian medis menunjukkan bahwa lambung dan pencernaan kita membutuhkan waktu sekitar lima jam hanya untuk bisa memproses daging.
Di sinilah asupan serat maju sebagai pahlawan alias Most Valuable Player (MVP) untuk perutmu.
Serat dari sayuran dan buah-buahan sangat membantu melancarkan pergerakan pencernaan, sehingga usus bisa mengolah protein daging tersebut dengan jauh lebih efisien dan cepat.
Baca juga: Hidden Gem di Kalimalang! Kobar Daging Asap Sajikan Kuliner Smoky dan Juicy Mulai dari 30 Ribuan
"Rasa begah, kembung pun lebih mudah hilang atau mungkin akan teratasi dengan kita makan banyak serat," tambah dr. Aru.
Kesimpulannya, kamu sama sekali nggak butuh detoks pencernaan yang merepotkan. Solusi terbaiknya sesimpel mengatur porsi makan sejak awal.
"Jadi intinya adalah dalam satu porsi piring itu usahakan keseimbangan atau isi dari piring tersebut yang baik," tegas dr. Aru.
Dalam sekali makan, usahakan selalu ada komposisi seimbang antara daging (sebagai sumber protein), sumber karbohidrat, dan yang paling penting adalah serat tambahan dari sayur.
Komposisi gizi yang tepat ini nggak cuma bikin pencernaan kamu lebih chill tanpa rasa begah, tapi juga ampuh menjaga stabilitas tubuh sehingga terhindar dari lonjakan gula darah dan kolesterol jahat.
Jadi, nikmati hidangan kurbanmu tanpa rasa bersalah, dan pastikan piringmu tetap sehat, ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Detik Health