Rabu, 13 MEI 2026 • 19:47 WIB

Sejarah Es Selendang Mayang: Mengulik Asal-usul Si Manis Kenyal Kebanggaan Warga Betawi

Author

Es Selendang Mayang (palpos.disway.id)

JAKARTA - Pernahkah kamu merasa dahaga luar biasa saat menembus teriknya cuaca Jakarta di siang bolong? Kalau iya, pasti bayangan meneguk segelas es manis nan segar dengan paduan santan dan gula merah langsung melintas di kepala.

Nah, di tengah gempuran tren minuman kekinian yang terus silih berganti, ada satu harta karun kuliner ibu kota yang tak boleh kamu lupakan begitu saja. Yup, Es Selendang Mayang! 

Bukan sekadar minuman penyegar tenggorokan biasa, kudapan legendaris asli tanah Betawi ini ternyata menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang dan makna filosofis yang sangat mendalam.

Yuk, kita kupas tuntas sejarah dan keunikan di balik manis kenyalnya es kebanggaan warga Jakarta ini!

Asal-Usul Nama dari Karakter Cerita Rakyat

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa nama minuman ini terdengar begitu puitis dan anggun?

Usut punya usut, penamaan kudapan legendaris ini rupanya tak lepas dari pesona cerita rakyat Betawi klasik yang sangat populer pada masanya, yakni tokoh si Jampang Mayang Sari.

Menurut Yahya Andi Saputra, salah seorang budayawan Betawi ternama, kata ‘mayang’ pada dasarnya dimaknai sebagai representasi dari sesuatu yang indah dan cantik jelita.

Lebih jauh lagi, nama selendang mayang ini merupakan perpaduan dua elemen kata yang mendeskripsikan tampilan fisiknya secara sempurna.

Kata "selendang" merujuk pada visual pudingnya yang berlapis warna-warni memanjakan mata (biasanya didominasi warna merah, hijau, dan putih) yang seolah melambai layaknya selendang seorang penari tradisional.

Sementara itu, sisipan kata "mayang" secara harfiah juga mewakili tekstur adonan yang kenyal di mulut sekaligus cita rasanya yang manis memanjakan lidah.

Baca juga: Sejarah Bir Pletok: “Vodka” Khas Betawi Penghangat Tubuh yang 100 Persen Halal dan Berkhasiat

Resep Warisan Nenek Moyang Sejak 1940-an

Bicara soal sejarah dan kapan sajian ini pertama kali tercipta, es manis ini ternyata sudah eksis sejak zaman sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengolahan es selendang mayang diperkirakan sudah mulai dikembangkan oleh masyarakat lokal Jakarta pada era 1940-an silam.

Resep autentiknya dijaga dengan baik dan diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang kita.

Proses pembuatannya pun masih mempertahankan unsur tradisional, mengandalkan bahan-bahan alami seperti tepung sagu aren atau tepung beras yang diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan tekstur kenyal paripurna yang selalu sukses bikin kita ketagihan saat mengunyahnya.

Warna-Warni Cantik sebagai Bukti Akulturasi Budaya

Daya tarik paling kuat dari sajian ini tentu ada pada perpaduan warnanya yang sangat mencolok dan menggugah selera.

Namun, siapa sangka kalau warna-warni tersebut bukan sekadar pewarna makanan tanpa arti?

Dilansir dari laman resmi Warisan Budaya TakBenda Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), paduan warna tersebut adalah identitas khas masyarakat Betawi yang justru lahir dari persilangan ragam kebudayaan negara lain.

Setiap lapisan warna menyimpan ceritanya masing-masing. Misalnya, warna merah yang terang benderang memiliki kaitan erat dengan pengaruh kuat dari budaya Tiongkok.

Kemudian, ada warna kuning yang merupakan warna kebesaran dari identitas masyarakat Melayu.

Terakhir, warna hijau yang menyejukkan mata kerap diidentifikasi sebagai warisan peninggalan dari budaya Arab. 

Hal ini menjadi cerminan serta bukti nyata betapa terbukanya masyarakat Jakarta (Betawi) dalam merangkul berbagai elemen keberagaman sejak puluhan tahun lalu.

Sajian Spesial Pembawa Simbol Kehangatan

Pada zaman dahulu, Es Selendang Mayang bukanlah jajanan pinggir jalan biasa yang mudah ditemukan.

Minuman istimewa ini biasanya menjadi tamu kehormatan yang selalu disajikan secara eksklusif pada acara-acara besar, seperti pesta pernikahan adat Betawi atau acara perayaan penting lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kudapan manis ini mulai merakyat.

Ia kerap diandalkan sebagai menu takjil favorit saat bulan puasa tiba, maupun dinikmati sebagai sajian santai di sore hari untuk menemani momen berkumpul bersama orang terkasih.

Kehadirannya selalu sukses melambangkan makna kehangatan, kemeriahan, serta wujud rasa syukur bagi siapapun yang menyantapnya.

Kekayaan kuliner tradisional seperti ini adalah identitas kota yang harus terus kita lestarikan.

Baca juga: Lepas Dahaga! Ini Deretan Minuman Khas DKI Jakarta yang Paling Menyegarkan Tenggorokan

Jadi, kapan terakhir kali kamu menikmati segarnya sajian legendaris ini?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU