JAKARTA - Siapa sangka kalau di Jakarta ada minuman bernama "bir" tapi justru bikin tubuh sehat dan sama sekali nggak bikin mabuk?
Buat kamu yang tinggal di ibu kota atau gemar berburu kuliner Nusantara, pasti sudah nggak asing lagi dengan Bir Pletok.
Jangan buru-buru kaget mendengar namanya. Meskipun menyandang kata "bir", minuman tradisional khas Betawi ini adalah 100% halal dan murni terbuat dari racikan rempah-rempah berkhasiat.
Di balik rasanya yang pedas manis dan ampuh menghangatkan tenggorokan, ada sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat lokal merespons budaya kolonial Belanda.
Yuk, kita selami lebih dalam asal-usul Bir Pletok yang kerap dijuluki “vodka” khas Betawi ini!
Baca juga: Lepas Dahaga! Ini Deretan Minuman Khas DKI Jakarta yang Paling Menyegarkan Tenggorokan
Kisah lahirnya Bir Pletok ditarik mundur ke zaman penjajahan kolonial Belanda di Batavia (sekarang menjadi Jakarta).
Pada masa itu, orang-orang Eropa yang bermukim di Hindia Belanda memiliki kebiasaan minum wine atau bir sungguhan saat malam hari tiba.
Tujuannya, untuk menghangatkan badan di tengah cuaca yang dingin, sekaligus sebagai ajang bersosialisasi antar kaum elit.
Masyarakat Betawi yang sehari-hari berinteraksi dan melihat kebiasaan kaum kolonial ini pun merasa tertarik dengan konsep minuman penghangat tubuh.
Namun, karena mayoritas orang Betawi adalah penganut agama Islam yang taat, mereka tentu dilarang keras mengonsumsi minuman beralkohol yang memabukkan.
Tak kehabisan akal, para leluhur akhirnya berinovasi menciptakan minuman alternatif.
Mereka meracik berbagai rempah lokal yang mampu memberikan efek hangat serupa, namun dijamin aman dan halal untuk dikonsumsi. Itulah momen bersejarah di mana Bir Pletok pertama kali tercipta.
Mungkin kamu bertanya-tanya, dari mana sih asal mula kata "pletok" pada minuman herba ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Lembaga Kebudayaan Betawi