Rabu, 13 MEI 2026 • 19:35 WIB

Sejarah Bir Pletok: “Vodka” Khas Betawi Penghangat Tubuh yang 100 Persen Halal dan Berkhasiat

Author

Bir Pletok (LPPOM)

JAKARTA - Siapa sangka kalau di Jakarta ada minuman bernama "bir" tapi justru bikin tubuh sehat dan sama sekali nggak bikin mabuk?

Buat kamu yang tinggal di ibu kota atau gemar berburu kuliner Nusantara, pasti sudah nggak asing lagi dengan Bir Pletok.

Jangan buru-buru kaget mendengar namanya. Meskipun menyandang kata "bir", minuman tradisional khas Betawi ini adalah 100% halal dan murni terbuat dari racikan rempah-rempah berkhasiat.

Di balik rasanya yang pedas manis dan ampuh menghangatkan tenggorokan, ada sejarah panjang tentang bagaimana masyarakat lokal merespons budaya kolonial Belanda.

Yuk, kita selami lebih dalam asal-usul Bir Pletok yang kerap dijuluki “vodka” khas Betawi ini!

Baca juga: Lepas Dahaga! Ini Deretan Minuman Khas DKI Jakarta yang Paling Menyegarkan Tenggorokan

Respons Cerdas Terhadap Budaya Kolonial Belanda

Kisah lahirnya Bir Pletok ditarik mundur ke zaman penjajahan kolonial Belanda di Batavia (sekarang menjadi Jakarta).

Pada masa itu, orang-orang Eropa yang bermukim di Hindia Belanda memiliki kebiasaan minum wine atau bir sungguhan saat malam hari tiba.

Tujuannya, untuk menghangatkan badan di tengah cuaca yang dingin, sekaligus sebagai ajang bersosialisasi antar kaum elit.

Masyarakat Betawi yang sehari-hari berinteraksi dan melihat kebiasaan kaum kolonial ini pun merasa tertarik dengan konsep minuman penghangat tubuh.

Namun, karena mayoritas orang Betawi adalah penganut agama Islam yang taat, mereka tentu dilarang keras mengonsumsi minuman beralkohol yang memabukkan.

Tak kehabisan akal, para leluhur akhirnya berinovasi menciptakan minuman alternatif.

Mereka meracik berbagai rempah lokal yang mampu memberikan efek hangat serupa, namun dijamin aman dan halal untuk dikonsumsi. Itulah momen bersejarah di mana Bir Pletok pertama kali tercipta.

Tiga Versi Sejarah di Balik Nama "Pletok"

Mungkin kamu bertanya-tanya, dari mana sih asal mula kata "pletok" pada minuman herba ini?

Ternyata, ada tiga versi sejarah lisan yang berkembang di tengah masyarakat untuk menjelaskan penamaan yang unik tersebut.

Versi pertama menyebutkan bahwa suara itu berasal dari tabung bambu. Dahulu, orang Betawi sering mencampur dan mengocok bahan minuman ini di dalam sebuah tabung bambu yang ditutup rapat.

Nah, saat sumbat bambu tersebut ditarik atau dibuka paksa, muncul bunyi "pletok!" yang cukup nyaring.

Versi kedua berkaitan erat dengan es batu. Ada yang menuturkan bahwa bunyi tersebut berasal dari bongkahan es batu yang dimasukkan ke dalam teko alumunium, lalu dikocok keras bersama rebusan rempah panas.

Bunyi benturan es batu dengan dinding teko itulah yang menghasilkan irama "pletok-pletok".

Sedangkan versi ketiga lebih berfokus pada proses perebusan bahan.

Sebagian masyarakat percaya bahwa nama ini terinspirasi dari bunyi buah kapulaga yang pecah dan meletup saat direbus dalam air yang mendidih.

Baca juga: Dari Selingkuh Hingga Bom Atom, Berikut 7 Kuliner Unik Khas Kepulauan Seribu yang Namanya Bikin Geleng-Geleng Kepala!

Kaya Rempah dan Resmi Menjadi Ikon Budaya

Berbeda jauh dengan bir dari daratan Eropa, bahan dasar Bir Pletok adalah murni kekayaan alam Nusantara.

Minuman ini diracik dari perpaduan presisi antara jahe, serai, daun pandan, kayu manis, hingga kapulaga.

Satu bahan rahasia utama yang membuatnya memiliki warna merah merona layaknya anggur merah atau wine mahal adalah tambahan kayu secang.

Kandungan rempah-rempah alami tersebut menjadikan Bir Pletok sangat berkhasiat untuk kesehatan fisik.

Mulai dari melancarkan peredaran darah, meredakan gejala masuk angin, hingga menenangkan lambung.

Minuman ini sangat nikmat disajikan hangat saat musim hujan, atau dinikmati dingin dengan tambahan es batu di kala siang hari Jakarta yang terik.

Kini, eksistensi Bir Pletok tak lagi sebatas minuman rumahan biasa.

Minuman yang penuh filosofi perlawanan budaya ini telah resmi ditetapkan sebagai salah satu ikon budaya Betawi dan terdaftar secara sah sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. 

Kamu bisa dengan mudah menemukannya di berbagai acara adat, pesta pernikahan, hingga sentra oleh-oleh di berbagai sudut Jakarta.

Jadi, kapan terakhir kali kamu menikmati segelas Bir Pletok yang otentik ini?

Di tengah gempuran tren minuman kekinian, menjaga dan melestarikan warisan leluhur tentu menjadi kebanggaan tersendiri!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Lembaga Kebudayaan Betawi

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU