JAKARTA - Bagaimana jadinya jika seorang pembalap Formula 1 di era modern seperti saat ini justru memilih untuk menjauh dari teknologi paling mutakhir di markas timnya demi mengejar kemenangan di lintasan balap?
Strategi berani inilah yang sedang diterapkan oleh Lewis Hamilton pada musim kompetisi 2026 bersama tim Ferrari.
Setelah sempat melewati musim debut yang sangat penuh tantangan pada tahun 2025 lalu, pemegang tujuh gelar juara dunia ini sekarang berhasil mengembalikan performa puncaknya.
Kunci utama di balik kebangkitan Hamilton ini terbilang unik, lantaran ia secara terang-terangan menolak memanfaatkan fasilitas simulator canggih milik Ferrari dan lebih memilih untuk mengandalkan insting murninya di sirkuit nyata.
Keputusan Ekstrem yang Berbuah Manis
Langkah berani yang diambil Hamilton terbukti membawa dampak yang sangat positif bagi performa balap sang driver asal Inggris tersebut.
Baca juga: Gagal Finis di GP China, Verstappen Kritik Aturan Baru F1
Di sepanjang musim ini, ia berhasil mengamankan lima podium yang impresif, dengan pencapaian tertinggi berupa kemenangan perdananya untuk tim Kuda Jingkrak di Barcelona.
Menjelang balapan Grand Prix Belgia di Spa-Francorchamps akhir pekan ini, pembalap berusia 41 tahun itu secara terbuka mengakui bahwa dirinya sudah tidak lagi menyentuh perangkat simulator di markas Ferrari selama dua bulan terakhir.
Alasan Utama Tinggalkan Teknologi Canggih
Dilansir dari laman Crash.net, Hamilton mengungkapkan bahwa keputusan tidak biasa ini sangat membantunya dalam meningkatkan ritme balapan secara keseluruhan.
Ia merasa simulator pada musim lalu sering kali menghasilkan data yang tidak akurat dengan kondisi nyata di lintasan sirkuit.
Akibat melesetnya data tersebut, pengaturan mobilnya kerap menjadi kacau dan memberikan dampak buruk bagi hasil balapannya di hari Minggu.
Bagi pembalap ikonik ini, kendala dengan simulator sebenarnya bukanlah hal yang baru. Hamilton memaparkan bahwa ia telah menggunakan teknologi simulasi balap sejak tahun 1997 silam.
Menurutnya, perangkat lunak tersebut memang sangat canggih dan berguna, tetapi juga berpotensi besar menyesatkan pembalap di sirkuit yang sesungguhnya.
Situasi ini mirip dengan masa awal dirinya membela tim Mercedes, ketika ia juga memilih berhenti memakai simulator karena alasan yang sama.
Langkah berani untuk kembali mempercayai insting murni di atas lintasan aspal kini berhasil membawanya bertengger di posisi ketiga klasemen sementara, hanya berselisih 32 poin dari pemimpin klasemen asal tim Mercedes, Andrea Kimi Antonelli.
Pujian Tetap Mengalir untuk Teknisi Kuda Jingkrak
Hamilton tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap fasilitas simulator milik Ferrari meskipun saat ini ia sedang konsisten menghindarinya.
Ketika bersiap menghadapi balapan di Kanada pada Mei lalu, ia menegaskan bahwa simulator tim asal Italia tersebut merupakan ruang kerja luar biasa yang disokong oleh mekanik serta teknisi terbaik.
Sepanjang karir panjangnya di F1, ia bahkan memuji perangkat canggih itu sebagai simulator paling sempurna yang pernah ia rasakan secara langsung.
Sang legenda balap juga memastikan tidak menutup kemungkinan untuk kembali menggunakan simulator di masa mendatang, sebab ia sadar betul fasilitas vital ini harus terus dikembangkan demi kemajuan tim.
Baca juga: Lewis Hamilton Kirim Langsung Bantuan Ke Yordania untuk Korban Genosida Gaza, Beri Pesan Menyentuh
Hamilton mengaku bangga karena setiap masukan berharga darinya selalu direspons secara positif oleh teknisi Ferrari.
Kendati demikian, khusus enam bulan terakhir ini, ia lebih memilih pendekatan konvensional guna memperoleh korelasi data yang jauh lebih akurat.
Menarik untuk dinantikan bagaimana strategi unik ini akan mendukung performa Hamilton agar tampil gahar pada seri Grand Prix Belgia akhir pekan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crash.net