Minggu, 19 JULI 2026 • 19:04 WIB

5 Alasan Mengapa Jakarta Sering Dilanda Banjir Setiap Tahun yang Wajib Kamu Tahu!

Author

Banjir di Pesisir Jakarta (Pradita Utama/detik.com)

JAKARTA - Saat awan mendung mulai menutupi langit ibu kota, rasa cemas sering kali melanda para warga.

Hujan lebat di DKI Jakarta kerap menjadi sinyal datangnya musibah genangan air tahunan yang berulang, khususnya ketika memasuki awal musim penghujan. 

Dampak dari persoalan rutin ini sangat besar, hingga melumpuhkan berbagai aktivitas harian masyarakat dari kawasan selatan sampai utara Jakarta.

Kamu mungkin penasaran apa yang membuat kota sebesar ini terus-menerus kewalahan menangani debit air yang melonjak tinggi.

Penyebabnya tentu sangat kompleks karena mencakup perpaduan antara kondisi alamiah dan aktivitas manusia.

Melalui artikel ini, kita akan mengulas secara tuntas lima faktor mendasar di balik banjir Jakarta supaya kamu bisa meningkatkan kewaspadaan sekaligus memahami akar persoalannya.

Baca juga: Warga Metropolitan Wajib Tahu, Ini 6 Suku Terbesar di Jakarta

1. Kondisi Cuaca Hujan Ekstrem

Cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang paling sering memicu bencana musiman ini. Wilayah ibu kota kerap diguyur hujan dengan intensitas tinggi yang berada jauh di atas batas wajar.

Berdasarkan catatan BMKG, rekor curah hujan tertinggi sering kali tercipta dalam durasi singkat, sehingga memicu luapan air secara tiba-tiba.

Ketika hujan lebat berlangsung terus-menerus, lonjakan debit air tawar tidak lagi mampu ditampung oleh kapasitas sungai yang ada.

Dampaknya, aliran air meluap hingga menggenangi jalan raya dan merendam kawasan pemukiman warga secara luas.

2. Banjir Kiriman

Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah adanya fenomena banjir kiriman dari wilayah dataran tinggi.

Letak geografis Jakarta yang berada di dataran rendah menyebabkannya dilalui oleh tiga belas aliran sungai besar.

Saat intensitas hujan tinggi melanda daerah hulu seperti Bogor dan Depok, aliran air berskala besar akan bergerak cepat ke arah hilir menuju Teluk Jakarta.

Untuk memantau ancaman dari luapan air ini, warga biasanya menjadikan Bendungan Katulampa sebagai indikator utama.

Jika wilayah hulu gagal menampung lonjakan volume air tersebut, masyarakat Jakarta harus bersiap menghadapi kiriman banjir meskipun cuaca di sekitar mereka cenderung cerah.

3. Amblesnya Permukaan Tanah

Meskipun terdengar mengerikan, fakta ketiga ini benar-benar nyata terjadi saat ini. Permukaan tanah di Jakarta mengalami penurunan yang sangat cepat setiap tahunnya. 

Aktivitas rumah tangga serta eksploitasi air tanah yang berlebihan oleh gedung-gedung bertingkat menjadi pemicu utama merosotnya daratan.

Akibat berkurangnya cadangan air di bawah tanah, kepadatan struktur tanah pun ambles secara perlahan.

Baca juga: Awas Banjir Rob Jakarta! Fenomena Super New Moon Ancam Pesisir Utara 9 Sampai 16 Juli 2026

Kondisi geologis tersebut mengakibatkan sebagian besar wilayah Jakarta Utara kini posisinya berada lebih rendah dari permukaan laut. 

Dampaknya, air laut menjadi sangat mudah masuk ke daratan dan memperparah situasi genangan ketika hujan turun.

4. Minimnya Kawasan Resapan Air

Pesatnya pembangunan di berbagai wilayah kota memberikan dampak buruk bagi lingkungan hidup.

Faktor keempat ini berkaitan erat dengan minimnya kawasan resapan air alami akibat maraknya tren betonisasi.

Saat ini, hampir seluruh permukaan tanah di ibu kota tertutup oleh aspal jalan raya dan bangunan beton bertingkat.

Ketika hujan turun, air tidak dapat meresap ke dalam lapisan tanah secara alami. Air hujan tersebut justru langsung mengalir deras di permukaan mencari daerah yang lebih rendah.

Kurangnya ruang terbuka hijau menyebabkan air terus menggenang dan memerlukan waktu sangat lama untuk bisa surut sepenuhnya.

5. Buruknya Jaringan Drainase Kota

Faktor pamungkas yang menjadi pemicu masalah ini adalah buruknya sistem saluran pembuangan air. Di Jakarta, banyak saluran air beserta gorong-gorong bawah tanah yang tersumbat akibat tumpukan sampah plastik.

Selain itu, dimensi drainase yang ada saat ini kerap kali terlalu sempit sehingga tidak sebanding dengan tingginya volume air hujan yang turun.

Masalah ini diperparah oleh pendangkalan dasar sungai akibat endapan lumpur yang tebal, yang secara drastis mengikis daya tampung air.

Genangan ini tidak akan pernah menemukan solusi tuntas apabila warga dan aparat pemerintah tidak bergotong royong untuk membersihkan saluran air tersebut.

Memahami kelima faktor pemicu di atas sangatlah krusial bagi seluruh warga ibu kota. Kita tidak boleh hanya berdiam diri dan menyalahkan keadaan tanpa melakukan aksi nyata untuk menjaga lingkungan sekitar.

Langkah kecil seperti membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya hingga lebih bijak dalam menggunakan air tanah harian dapat menciptakan perubahan positif yang besar.

Semoga ulasan singkat ini dapat meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup di Jakarta serta senantiasa siaga menghadapi datangnya musim penghujan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU