JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi ruang aman, justru menyimpan ancaman tersembunyi bagi mahasiswanya?
Bagi kita yang beraktivitas di wilayah Jabodetabek, melihat ribuan mahasiswa berlalu-lalang menuntut ilmu adalah pemandangan sehari-hari.
Namun, di balik itu, keamanan mereka harus dijamin penuh oleh institusi. Isu kekerasan seksual di lingkungan kampus belakangan ini menjadi sorotan tajam, menuntut tindakan nyata dari pihak pendidikan.
Merespons urgensi tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengambil langkah progresif.
Sebagai kampus Islam negeri terkemuka di sekitar ibu kota, UIN Jakarta menunjukkan komitmen seriusnya dalam menguatkan perspektif gender dan menciptakan ruang akademik yang aman.
Baca juga: UIN Jakarta Tegaskan Komitmen Pendidikan Berbasis Cinta untuk Dunia yang Damai
Komitmen ini diwujudkan melalui "Workshop Penulisan Ilmiah Isu Gender dan Anak" yang digagas oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA).
Acara strategis ini diselenggarakan secara intensif selama tiga hari, yakni Selasa hingga Kamis (14 hingga 16 April 2026), bertempat di Hotel ADIA Suites.
Pemilihan lokasi di luar lingkungan kampus tradisional ini tampaknya ditujukan agar para akademisi dapat lebih fokus dan intensif dalam menyerap materi serta berdiskusi tanpa distraksi rutinitas harian.
Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan forum yang mempertemukan pemangku kebijakan dan pakar.
Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., hadir memberikan dukungan penuh, mendampingi Kepala PSGA UIN Jakarta, Dr. Hj. Wiwi Sajaroh, M.Ag.
Kehadiran pimpinan tertinggi ini menjadi bukti bahwa isu kekerasan seksual adalah prioritas utama institusi pendidikan.
Dalam sambutannya, Dr. Hj. Wiwi Sajaroh menegaskan bahwa workshop ini merupakan bagian integral dari ikhtiar berkelanjutan PSGA untuk mencegah kekerasan seksual di kampus.
Beliau memaparkan bahwa mengawal penguatan perspektif gender di perguruan tinggi adalah sebuah keharusan mutlak.
Kampus dituntut untuk peka dan memiliki kacamata keadilan gender dalam setiap pelaksanaannya, sebuah poin krusial yang akan terus didorong oleh UIN Jakarta bersama seluruh elemen mahasiswa.
Satu hal menarik dari inisiatif ini adalah metode pendekatannya. Pencegahan kekerasan seksual tidak hanya dilakukan lewat sosialisasi aturan semata, tetapi juga melalui penguatan literasi dan penulisan ilmiah.
Kemampuan merangkai kata, memilih diksi yang tepat, dan menyusun argumen yang solid dalam jurnal atau artikel populer menjadi instrumen ampuh untuk mengedukasi masyarakat luas.
Narasi yang kuat memiliki kekuatan untuk mengubah perspektif pembacanya. Melalui penyusunan artikel dan penelitian berkualitas, sivitas akademika diajak membongkar akar masalah ketidakadilan gender secara kritis.
Forum akademik ini dirancang khusus untuk memantik lahirnya kajian yang mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seksual.
Baca juga: Pelajar Jakarta Timur Antusias Ikuti Try Out KJP untuk Persiapan Masuk Perguruan Tinggi Negeri
Dengan melibatkan narasumber kompeten di bidangnya seperti Melinda Aprilyanti, S.H., M.Ag., KUML., Ahmad Hamdani, M.Si.P., C.P.S., serta Diahhadi Setyonaluri, Ph.D., para peserta langsung dibekali pisau analisis yang komprehensif.
Harapannya, hasil rumusan workshop ini menjadi referensi utama yang menggerakkan kebijakan strategis di dunia pendidikan tinggi.
Isu kekerasan seksual adalah masalah sistemik yang tak bisa diselesaikan sendirian oleh satu institusi.
Menyadari hal tersebut, PSGA UIN Jakarta juga mengundang sejumlah perguruan tinggi lain di sekitar Jakarta untuk turut berkontribusi aktif.
Kampus yang dilibatkan antara lain Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN).
Tujuannya adalah memperkuat jejaring advokasi antarlembaga. Dengan bergeraknya elemen kampus secara serentak, ekosistem pendidikan yang aman bagi mahasiswa di kawasan ibu kota akan lebih cepat terwujud.
Pada hari pertama, kegiatan ini langsung menyuguhkan materi yang sangat menggugah pemikiran.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm., Dosen PTIQ sekaligus Pendiri kajian Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam).
Kehadiran beliau memberikan pencerahan mendalam dalam memahami isu kesetaraan dari sudut pandang agama yang jauh lebih inklusif.
Dr. Nur Rofiah mengupas tuntas tentang pentingnya memaknai ajaran Islam secara komprehensif dan relevan dengan zaman.
Ia menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan, termasuk relasi antar gender.
Pemahaman agama yang kaku seringkali merugikan, sehingga telaah teks yang benar diperlukan agar agama senantiasa membawa kemaslahatan tanpa adanya diskriminasi.
Secara keseluruhan, konsistensi UIN Jakarta melalui agenda rutin PSGA ini patut diapresiasi.
Workshop tiga hari ini memikul harapan besar untuk meningkatkan kapasitas intelektual elemen kampus.
Baca juga: Kampus PTIQ Jakarta Utara Resmi Dicanangkan, Pramono Tekankan Pentingnya Pendidikan
Dengan mengutamakan kepekaan isu gender secara kritis dan ilmiah, celah ancaman kekerasan seksual di ruang belajar bisa ditutup.
Sebagai media lokal yang terus menyoroti dinamika kota Jakarta dan sekitarnya, kami sangat mendukung langkah-langkah nyata dari instansi pendidikan semacam ini.
Upaya kolektif ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi juga mengemban amanah memanusiakan manusia.
Nah, bagaimana dengan lingkungan kampus atau tempat kerja kamu saat ini? Apakah kebijakannya sudah responsif terhadap isu perlindungan seperti ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uinjkt.ac.id