Rabu, 27 AGUSTUS 2025 • 12:04 WIB

Ketegangan Trump dan The Fed Tekan Rupiah, Pasar Cemas Soal Independensi Moneter AS

Author

Ilustrasi - Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). (Rivan Awal Lingga)

JAKARTA- Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penurunan nilai rupiah tidak lepas dari gejolak politik dan kebijakan moneter di Amerika Serikat.

Ketegangan memuncak setelah Trump secara sepihak mengumumkan pemecatan Gubernur The Fed, Lisa Cook—langkah yang langsung memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral AS.

Cook sendiri menolak untuk mundur, menegaskan bahwa Presiden tidak memiliki kewenangan untuk mencopot posisinya.

Ketidakpastian ini dinilai berpotensi memicu gugatan hukum, meski dampak langsung terhadap pasar masih tergolong terbatas.

Menurut Josua, keputusan Trump menuding Cook menyalahgunakan fasilitas hipotek dinilai banyak pihak sebagai dalih politik.

Situasi ini memperkuat asumsi pelaku pasar bahwa tekanan terhadap The Fed akan mendorong percepatan pemangkasan suku bunga, sejalan dengan keinginan Trump yang berulang kali menuntut biaya pinjaman lebih rendah.

 Pasar kini memperkirakan kemungkinan sebesar 83 persen bahwa bank sentral AS akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September.

Di tengah situasi ini, rupiah dibuka melemah ke level Rp16.323 per dolar AS pada perdagangan Rabu (27/8), turun 24 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan hari sebelumnya.

 Analis memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah akan tetap berada di rentang Rp16.250 hingga Rp16.375 per dolar AS, seiring belum meredanya sentimen global.

Baca juga: Menjaga Integritas Statistik: Pilar Kepercayaan Publik dan Pembangunan Berkelanjutan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU