Kamis, 16 JULI 2026 • 19:27 WIB

Wajib Tahu! Ini 5 Alasan Sultan Agung Melakukan Serangan ke Batavia

Author

Lukisan Sultan Agung Raja Mataram (Instagram/@kkang773 via Neohistoria)

JAKARTA - Bayangkan jika Mataram Islam, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, memilih untuk tunduk dan tidak mengangkat senjata melawan kongsi dagang Belanda di Jawa.

Pada kurun waktu 1628 hingga 1629, Sultan Agung Hanyokrokusumo mengerahkan ribuan prajurit terbaiknya dari jantung kerajaan menuju Batavia.

Serangan militer yang dilakukan Sultan Agung bukanlah tindakan impulsif, tetapi sebuah aksi strategis yang diperhitungkan dengan sangat matang.

Namun, apa sebenarnya yang mendorong keputusan berani sang penguasa untuk melancarkan serangan historis tersebut?

Upaya heroik ini ditopang oleh persiapan logistik yang luar biasa, salah satunya melalui pembangunan lumbung-lumbung padi di sepanjang pesisir utara Jawa.

Baca juga: Mengapa Kota Tua Jakarta Disebut Oud Batavia? Ini Fakta Historis yang Wajib Kamu Tahu!

Artikel ini akan mengupas tuntas lima faktor utama yang menyulut murka Sultan Agung hingga beliau membulatkan tekad untuk melumat habis markas besar VOC di Batavia.

1. Dampak Buruk Monopoli Perdagangan

Penguasaan sepihak atas rute rempah-rempah oleh VOC kala itu benar-benar melumpuhkan perekonomian Nusantara.

Praktik monopoli perdagangan yang diterapkan oleh kompeni menyebabkan harga komoditas milik petani lokal di berbagai wilayah jajahan merosot tajam.

Kompeni memaksa masyarakat untuk menjual hasil bumi dengan harga yang sangat rendah dan tidak adil.

Kebijakan ini tentu saja sangat merugikan kesejahteraan rakyat Mataram yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor agraris serta perniagaan di pesisir utara.

Kesenjangan ekonomi yang sangat lebar inilah yang kemudian memicu kemarahan pihak keraton terhadap ketamakan para pedagang asing tersebut.

2. Tindakan Memblokade Kapal Dagang Mataram

Belanda tampaknya tidak cukup hanya mendominasi pasar domestik, melainkan secara terbuka melakukan blokade di wilayah laut Nusantara.

Dengan keangkuhannya, mereka kerap mencegat sekaligus melarang armada dagang dari Mataram yang berniat menuju pelabuhan internasional di Malaka.

Kebijakan pembatasan pelayaran bebas ini tentu saja mencederai harga diri Sultan Agung serta mendatangkan kerugian besar secara ekonomi.

Langkah provokasi yang dilakukan oleh VOC ini dipandang sebagai bentuk perampasan terhadap kebebasan berniaga yang telah diwarisi turun-temurun sejak leluhur terdahulu.

Akibat pemutusan akses jalur laut ini, aktivitas ekspor beras yang menjadi tumpuan utama pemasukan Mataram pun menjadi lumpuh total.

3. Ancaman Bagi Hegemoni Kerajaan Mataram

Kehadiran militer VOC di bagian barat Pulau Jawa dirasakan sebagai ancaman langsung bagi kedaulatan absolut keraton.

Dengan perluasan kekuasaan kompeni yang kian gencar dan terencana, stabilitas politik kerajaan-kerajaan setempat pun mulai goyah.

Baca juga: Mengenal Si Mirah dari Marunda: Kisah Jagoan Betawi Berjuluk “The Lioness of Marunda” Penakluk Hati Para Perampok!

Benteng-benteng Belanda yang kian kokoh dikhawatirkan dapat merongrong wilayah kekuasaan Mataram secara senyap jika tidak segera diantisipasi.

Pihak kerajaan sangat memahami bahwa eksistensi kekuatan asing ini adalah ancaman nyata terhadap hegemoni mereka yang mesti secepatnya ditumpas.

Membiarkan kompeni bercokol di Batavia tak ubahnya menanam bom waktu yang sewaktu-waktu dapat mengoyak kedamaian kerajaan.

4. Penolakan Kedaulatan Mataram

Ketegangan diplomatik antara kedua belah pihak mencapai puncaknya akibat ketegaran sikap Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

Dengan congkak, VOC menolak mengakui kedaulatan serta supremasi politik yang dipegang oleh Mataram Islam di tanah Jawa.

Keengganan pihak kompeni untuk tunduk dan menyerahkan upeti tahunan dianggap sebagai bentuk pelecehan langsung terhadap martabat keraton.

Bagi seorang penguasa, pengakuan atas kedaulatan wilayah adalah prinsip mutlak yang sama sekali tidak dapat dinegosiasikan. 

Pada akhirnya, perilaku tidak terpuji dari utusan Belanda tersebut menyudahi segala peluang untuk menempuh jalan damai.

5. Hasrat Mempersatukan Nusantara

Terlepas dari pertikaian ekonomi serta ketegangan politik yang terjadi, pemimpin Mataram pada hakikatnya mengusung cita-cita yang agung.

Beliau telah lama mengidamkan persatuan seluruh kawasan Pulau Jawa di bawah naungan kerajaan Mataram Islam.

Keberadaan kongsi dagang kolonial di Batavia tentu menjadi penghalang utama dalam merealisasikan mimpi luhur tersebut.

Maka dari itu, menguasai markas VOC dinilai sebagai syarat wajib demi memerdekakan Nusantara dari belenggu penjajahan. Spirit persatuan inilah yang senantiasa membakar semangat tempur para prajurit di garis depan.

Ketegasan sikap sang penguasa hingga saat ini mewariskan nilai luhur akan esensi mempertahankan kehormatan bangsa.

Walau gempuran bertubi-tubi tersebut akhirnya membentur rintangan pasokan logistik yang pelik, keteguhan jiwa para pahlawan Nusantara sangat layak untuk terus kita teladani.

Baca juga: Taman Bendera Pusaka: Sejarah dan Transformasi Epik Wajah Baru RTH Hits di Jakarta Selatan

Semoga dengan mendalami lembaran sejarah perjuangan masa lalu ini, rasa cinta tanah air dapat kembali bersemi di dalam kalbumu saat ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU