Banjir di Pesisir Jakarta (Pradita Utama/detik.com)
JAKARTA - Saat awan mendung mulai menutupi langit ibu kota, rasa cemas sering kali melanda para warga.
Hujan lebat di DKI Jakarta kerap menjadi sinyal datangnya musibah genangan air tahunan yang berulang, khususnya ketika memasuki awal musim penghujan.
Dampak dari persoalan rutin ini sangat besar, hingga melumpuhkan berbagai aktivitas harian masyarakat dari kawasan selatan sampai utara Jakarta.
Kamu mungkin penasaran apa yang membuat kota sebesar ini terus-menerus kewalahan menangani debit air yang melonjak tinggi.
Penyebabnya tentu sangat kompleks karena mencakup perpaduan antara kondisi alamiah dan aktivitas manusia.
Melalui artikel ini, kita akan mengulas secara tuntas lima faktor mendasar di balik banjir Jakarta supaya kamu bisa meningkatkan kewaspadaan sekaligus memahami akar persoalannya.
Baca juga: Warga Metropolitan Wajib Tahu, Ini 6 Suku Terbesar di Jakarta
Cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang paling sering memicu bencana musiman ini. Wilayah ibu kota kerap diguyur hujan dengan intensitas tinggi yang berada jauh di atas batas wajar.
Berdasarkan catatan BMKG, rekor curah hujan tertinggi sering kali tercipta dalam durasi singkat, sehingga memicu luapan air secara tiba-tiba.
Ketika hujan lebat berlangsung terus-menerus, lonjakan debit air tawar tidak lagi mampu ditampung oleh kapasitas sungai yang ada.
Dampaknya, aliran air meluap hingga menggenangi jalan raya dan merendam kawasan pemukiman warga secara luas.
Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah adanya fenomena banjir kiriman dari wilayah dataran tinggi.
Letak geografis Jakarta yang berada di dataran rendah menyebabkannya dilalui oleh tiga belas aliran sungai besar.
Saat intensitas hujan tinggi melanda daerah hulu seperti Bogor dan Depok, aliran air berskala besar akan bergerak cepat ke arah hilir menuju Teluk Jakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber