JAKARTA - Pernah nggak sih kamu lagi asyik naik KRL Commuter Line, lalu mendengar masinis mengumumkan, "Stasiun berikutnya, Kampung Bandan"?
Buat kamu warga DKI Jakarta, khususnya anak kereta (anker), nama stasiun transit yang satu ini pasti sudah nggak asing lagi di telinga.
Tapi, tahukah kamu kalau di balik hiruk-pikuk lokasinya yang strategis di pesisir utara Jakarta, daerah ini menyimpan sejarah panjang yang cukup mind-blowing?
Nggak cuma sekadar nama, tempat ini punya kaitan erat dengan jejak kelam era kolonial hingga mitos-mitos warga lokal yang masih beredar.
Yuk, kita bedah bareng asal-usul Kampung Bandan yang penuh dengan peninggalan cerita ini!
Baca juga: Sering Ketuker Mana Pos Bloc, M Bloc, dan Blok M? Ini Perbedaannya yang Harus Kamu Tahu!
Menelusuri sejarah penamaan Kampung Bandan ibarat membaca novel misteri karena ada beberapa versi yang beredar luas di masyarakat.
Mengutip jurnal bertajuk "Mewujudkan Kampung Bandan sebagai Kampung Kota Berkelanjutan Menggunakan Pendekatan Asian New Urbanism" karya Desy Fatmala Makhmud dan tim, ternyata ada tiga versi sejarah utama terkait nama kawasan ini.
Versi pertama menyebutkan bahwa nama ini diambil dari nama Pulau Banda di kawasan Maluku. Versi kedua terdengar agak sedikit creepy, di mana kata "banda" konon berasal dari bahasa Jawa yang berarti "ikatan".
Mitosnya, pada zaman penjajahan Jepang, pemerintah kolonial kerap mengikat orang-orang yang dianggap memberontak di daerah ini sebelum akhirnya dibawa ke tempat eksekusi.
Sementara itu, versi ketiga jauh lebih chill, yaitu berasal dari kata "pandan" karena kabarnya kawasan tersebut dulunya dipenuhi oleh rimbunan pohon pandan yang wangi.
Khusus untuk cerita versi pertama, ada rentetan catatan sejarah pendukung yang cukup kuat. Semua plot twist sejarah ini bermula pada awal dekade 1600-an.
Pada masa itu, Jan Pieterszoon Coen selaku Gubernur Jenderal VOC sukses menaklukkan Jayakarta, sebuah kota dagang yang sedang sibuk-sibuknya di Nusantara.
Coen kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia, menjadikannya kantor pusat operasional VOC, dan merombak tata kotanya dengan vibes ala bangunan Eropa.
Karena roda bisnis VOC berputar sangat cepat dan Batavia berkembang pesat, mereka membutuhkan pasokan tenaga kerja yang masif. Sayangnya, cara yang digunakan sangatlah kejam.
Menurut Mohammad Iskandar dalam bukunya "Penelusuran Sejarah Peradaban Jakarta", pada tahun 1621 terjadi gelombang besar kedatangan orang-orang dari Kepulauan Banda ke Batavia.
Oleh pihak VOC, mereka dibawa bukan sebagai tamu, melainkan sebagai tawanan dengan status budak untuk dipekerjakan secara paksa.
Seiring berjalannya waktu, kebijakan politik perlahan berubah. Pihak VOC akhirnya memberlakukan larangan keras terhadap transaksi perbudakan.
Momen ini menjadi angin segar yang membebaskan para pekerja paksa asal Banda tersebut.
Baca juga: Mengungkap Wayang Sumedar: Fakta Sejarah di Balik Asal Muasal Kesenian Lenong Betawi DKI Jakarta
Sebagian dari mereka difasilitasi untuk pulang ke kampung halamannya, namun banyak juga yang sudah telanjur nyaman dan memutuskan untuk stay di Batavia.
Orang-orang Banda yang memilih bertahan ini kemudian mulai membangun sebuah pemukiman baru.
Uniknya, di tempat tersebut mereka hidup berdampingan dengan para pendatang dari wilayah lain, seperti orang-orang Jepang dan kelompok Papango dari Filipina yang datang menyusul.
Area percampuran budaya tempat mereka menetap inilah yang akhirnya melahirkan identitas kuat dan dinamakan Kampung Bandan.
Hari ini, wajah Kampung Bandan telah bertransformasi menjadi kawasan urban yang padat penduduk, namun tetap menyisakan fragmen sejarah yang kental.
Buat kamu yang suka urban exploration atau sekadar hunting foto dengan konsep street photography, kawasan ini wajib masuk daftar destinasi liburan akhir pekanmu.
Akses menuju ke sana pun gampang banget! Kamu cukup menggunakan layanan KRL Commuter Line dari arah mana saja dan turun langsung di Stasiun Kampung Bandan.
Dari stasiun, kamu bisa berjalan kaki menelusuri lorong-lorong tua, melihat interaksi multikultural warga lokal, serta membayangkan bagaimana sebuah kamp pekerja paksa di abad ke-17 kini menjelma menjadi salah satu urat nadi transportasi penting ibu kota.
Jadi, kapan nih kamu mau mampir menyusuri lorong waktu di utara Jakarta ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber