Kamis, 14 MEI 2026 • 16:57 WIB

Mengungkap Wayang Sumedar: Fakta Sejarah di Balik Asal Muasal Kesenian Lenong Betawi DKI Jakarta

Author

Ilustrasi Wayang Sumedar (Seni & Kebudayaan Betawi)

JAKARTA - Pernahkah kamu menonton pertunjukan Lenong dan tertawa terbahak-bahak melihat aksi jenaka para pemainnya di atas panggung?

Sebagai warga Jakarta, kesenian teater tradisional Betawi ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga.

Namun, tahukah kamu bahwa sebelum dikenal luas dengan nama Lenong, teater lokal ini harus melewati perjalanan sejarah dan transformasi yang cukup panjang?

Fase terpenting dalam evolusi kesenian ini adalah kemunculan sebuah pertunjukan yang diberi nama Wayang Sumedar.

Keberadaannya bukanlah sekadar nama yang numpang lewat dalam buku sejarah, melainkan sebuah jembatan penghubung krusial yang membentuk identitas teater komedi Betawi yang kita nikmati saat ini.

Baca juga: Sejarah Es Selendang Mayang: Mengulik Asal-usul Si Manis Kenyal Kebanggaan Warga Betawi

Dari Kemewahan Wayang Dermuluk Menuju Kesederhanaan Wayang Sumedar

Jauh sebelum Wayang Sumedar eksis, masyarakat Betawi tempo dulu mengenal bentuk teater lampau yang disebut Wayang Dermuluk.

Biasanya, kesenian ini menampilkan cerita-cerita klasik bernuansa kerajaan seperti Hikayat Indra Bangsawan dan Hikayat Abdul Muluk.

Barulah pada tahun 1923, terjadi perubahan yang sangat signifikan di mana Wayang Dermuluk perlahan bertransformasi menjadi Wayang Sumedar.

Kalau kamu perhatikan alur sejarahnya, ada perbedaan yang mencolok antara keduanya, terutama pada sektor dekorasi panggung.

Melansir laman Seni & Budaya Betawi, Wayang Dermuluk tampil begitu megah menggunakan kelambu yang dihiasi rangkaian batu marjan, memberikan kesan yang sangat mewah.

Sebaliknya, Wayang Sumedar hadir dengan visual yang jauh lebih sederhana dengan mengandalkan krey dan layar polos.

Pemakaian layar polos ini punya tujuan fungsional, yakni untuk membagi area pentas dengan ruang tunggu para pemainnya.

Dari segi musik, pengiring Wayang Dermuluk yang awalnya menggunakan alat musik Tambur Barongsay juga ikut digantikan oleh Tambur Tanji pada era Wayang Sumedar.

Menariknya, meski dekorasinya dipangkas menjadi lebih sederhana, Wayang Sumedar tetap setia membawakan kisah kaum bangsawan dengan sisipan komedi, seperti lakon Jula Juli Bintang Tujuh, Saiful Muluk, hingga Indra Bangsawan.

Karakter penceritaan inilah yang nantinya menjadi pondasi kuat bagi lahirnya gaya Lenong Denes.

Baca juga: Mengenal Haji Sabeni: Kisah 'Ip Man' dari Betawi yang Taklukkan Penjajah Tanpa Berdarah

Wayang Senggol sebagai Cikal Bakal Lahirnya Lenong

Transisi teater Betawi nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Sebelum berubah seutuhnya menjadi kesenian Lenong, Wayang Sumedar harus melewati tahap evolusi menjadi Wayang Senggol.

Penamaan kata "senggol" ini rupanya diambil secara harfiah dari adegan perkelahian di atas panggung yang dilakukan dengan cara saling menyenggolkan badan antar pemainnya.

Secara garis besar, Wayang Sumedar dan Wayang Senggol memiliki banyak kemiripan gaya pementasan.

Namun, kamu bisa melihat letak perbedaannya melalui dua unsur utama, yaitu layar dan dekorasi. 

Jika Wayang Sumedar mempertahankan layar polosnya, Wayang Senggol tampil lebih artistik.

Layar pada pertunjukan Wayang Senggol dipenuhi dengan berbagai lukisan yang mengilustrasikan latar tempat dari alur cerita, sehingga penonton bisa lebih mendalami suasana adegan.

Sejarah Munculnya Istilah Lenong dan Dua Jenis Andalannya 

Masih melansir laman Seni & Kebudayaan Betawi, sekitar tahun 1926, barulah istilah "Lenong" mulai muncul dan mendulang kepopuleran di tengah masyarakat Jakarta.

Momentum kemunculan era baru ini ditandai dengan perubahan alat musik pengiring yang beralih menggunakan orkestra Gambang Kromong khas Betawi.

Kehadiran instrumen Gambang Kromong sukses memberikan warna baru yang jauh lebih dinamis, meriah, dan merakyat.

Lalu, dari mana sebenarnya istilah Lenong itu berasal? Terdapat beberapa versi sejarah yang menjelaskannya.

Versi pertama menyebutkan bahwa kata ini diambil dari tiruan bunyi instrumen musik yang terdengar seperti "le-on-ong" di telinga masyarakat. 

Sementara versi lainnya meyakini bahwa nama tersebut terinspirasi dari nama salah satu tokoh atau pemain teater legendaris pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, kesenian Lenong semakin matang dan pada akhirnya terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama adalah Lenong Denes, yang merujuk pada dialek Betawi "dinas" atau resmi.

Jenis ini fokus menceritakan kisah dengan latar kerajaan dan kaum bangsawan.

Kedua adalah Lenong Preman, yang merupakan kebalikan dari versi Denes. Lenong Preman lebih menonjolkan kisah kehidupan sehari-hari dan sering membawakan lakon para jagoan lokal.

Oleh karena itu, Lenong Preman juga kerap dijuluki sebagai lenong jago. Penggunaan bahasa sehari-hari dan kostum kasual membuat versi preman ini terasa sangat dekat dan tak berjarak dengan keseharian warga Betawi.

Perjalanan dari Wayang Dermuluk, Wayang Sumedar, Wayang Senggol, hingga akhirnya mengakar kuat menjadi Lenong adalah bukti nyata betapa dinamisnya budaya Betawi beradaptasi.

Kini, setiap kali kamu menyaksikan pertunjukan Lenong, kamu sudah paham bahwa ada sejarah panjang yang menyusun setiap dialog jenakanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Seni & Kebudayaan Betawi

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU