Rabu, 22 APRIL 2026 • 16:05 WIB

Menelisik 5 Daftar Sungai Terbesar di DKI Jakarta: Panjang, Luas DAS, dan Fakta Menarik!

Author

Pembersihan Sungai Ciliwung oleh Pemkot Bogor dan Korindo Group (Korindo News)

JAKARTA - Pernahkah kamu menyadari betapa eratnya kehidupan warga Jakarta dengan keberadaan sungai-sungai yang membelah kota metropolitan ini?

Sejak zaman kolonial Hindia Belanda (Dutch East Indies) hingga detik ini, tata kelola air di DKI Jakarta selalu menjadi perbincangan hangat, terutama mengapa banjir masih kerap melanda pemukiman warga ketika musim hujan tiba. 

Mengulik peta geografi ibu kota, terdapat beberapa sungai utama yang difungsikan sebagai urat nadi perairan kota.

Dengan mengenali panjang aliran, luas Daerah Aliran Sungai (DAS), hingga berbagai cerita historis di baliknya, kamu bisa lebih memahami bagaimana alam dan tata letak kota saling mempengaruhi.

Mari kita bedah lima sungai terbesar yang mengalir di Jakarta beserta sederet fakta menarik yang mungkin belum kamu ketahui!

Baca juga: Gang Hijau Jalan Sungai Bambu III Rampung, Lingkungan Kini Asri dan Edukatif

1. Sungai Ciliwung

Bicara soal urat nadi perairan di Jakarta, nama Ciliwung pasti berada di urutan paling pertama yang ada ingatan.

Sungai ini memiliki panjang total sekitar 120 km, di mana 42 km di antaranya membelah wilayah ibu kota.

Dengan luas DAS mencapai 387 km², Ciliwung menyimpan sejarah panjang yang krusial. 

Tahukah kamu bahwa kejernihan air sungai ini di masa lalu menjadi alasan utama pemerintah kolonial Belanda memindahkan pusat pemerintahan dari Banten ke Batavia?

Tidak hanya itu, di tengah kepungan beton, saat ini Ciliwung adalah satu-satunya sungai di Jakarta yang ekosistem alaminya masih terus dipertahankan, termasuk sebagai habitat bagi populasi Senggawangan atau spesies bulus raksasa endemik.

2. Sungai Angke (Kali Angke)

Sungai Angke, atau yang lebih akrab disebut Kali Angke oleh warga lokal, membentang sepanjang 91 km dengan luas DAS sekitar 480 km².

Angka ini menjadikannya salah satu kawasan tangkapan air terluas yang bermuara di Jakarta. 

Namun, tahukah kamu bahwa nama sungai ini ternyata menyimpan kisah kelam? Nama Angke sendiri berasal dari bahasa Mandarin "Ang" yang berarti merah dan "Ke" yang berarti sungai. 

Penamaan historis ini amat lekat dengan peristiwa Geger Pacinan (atau Chinezenmoord dalam bahasa Belanda) tahun 1740, di mana konflik membuat warna air sungai memerah.

Kini, pesona Kali Angke telah berubah positif menjadi area vital untuk konservasi hutan mangrove di wilayah pesisir Muara Angke.

Baca juga: Normalisasi Sungai Ciliwung Fokus di Cililitan dan Pangadegan

3. Sungai Pesanggrahan (Kali Pesanggrahan)

Memiliki panjang lintasan mencapai 66 km dan luas DAS sekitar 226 km², Kali Pesanggrahan dikenal luas dengan karakteristik arusnya yang cukup deras saat curah hujan tinggi akibat kemiringan kontur tanah dari arah hulu. 

Untungnya, sungai ini dijaga oleh sekumpulan pahlawan lingkungan. Komunitas Peduli Pesanggrahan (KPC) sangat aktif merawat kawasan bantarannya.

Jerih payah komunitas ini sukses menyulap area pinggiran sungai yang kumuh menjadi hutan kota yang hijau dan asri.

4. Sungai Sunter (Kali Sunter)

Sungai Sunter atau biasa orang menyebutnya “Kali Sunter” mengalir sepanjang 37 km dengan luas DAS yang relatif lebih memusat, yakni sekitar 73 km².

Meskipun tidak sepanjang Ciliwung, peran fungsional sungai ini amat vital bagi mitigasi tata air ibu kota. 

Aliran hilir Kali Sunter kini telah terintegrasi langsung dengan Banjir Kanal Timur (BKT), sebuah megaproyek infrastruktur pengendali banjir sepanjang 23,5 km.

Jika kamu melintasi kawasan bantarannya, kamu akan melihat banyak waduk buatan yang secara strategis dibangun untuk menampung luapan sebagai area "parkir air".

5. Sungai Krukut (Kali Krukut)

Terakhir adalah Kali Krukut yang membentang sepanjang 31 km dengan luas DAS 84 km². Sebuah ironi menyelimuti sungai yang alirannya melintasi kawasan elit seperti Kemang di Jakarta Selatan ini. 

Di masa lampau, Sungai Krukut memiliki lebar yang amat ideal, mencapai 25 hingga 30 meter.

Sayangnya, akibat masifnya okupansi lahan oleh bangunan komersial maupun residensial, beberapa titik sungai kini menyempit drastis hingga tersisa 3 sampai 5 meter saja.

Tidak heran jika luapan air dari sungai ini sering menjadi sorotan publik saat merendam kawasan elit tersebut.

Baca juga: Pemprov DKI Tegaskan Lanjutkan Normalisasi Sungai Ciliwung dan Kali Krukut

Kelima sungai di atas membuktikan bahwa saluran air di Jakarta menyimpan sejarah, masalah, sekaligus potensi perbaikan yang nyata.

Memahami karakteristik sungai-sungai ini menyadarkan kita bahwa menjaga kelestarian sempadan sungai adalah kewajiban mutlak.

Mari jadikan wawasan ini sebagai langkah awal untuk ikut mengawasi tata lingkungan ibu kota!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU