Ilustrasi Peristiwa Kenaikan Yesus Kristus ke Surga (Yayasan Xaverius Tanjungkarang)
JAKARTA - Sering kali, perayaan besar umat Kristiani hanya diidentikkan dengan kemeriahan Natal atau syahdunya Paskah.
Padahal, ada satu momen sangat krusial yang sering kali terlewatkan maknanya secara utuh oleh banyak orang, yaitu peristiwa Kenaikan Yesus Kristus ke Surga.
Kapan tepatnya peristiwa bersejarah ini terjadi, di mana lokasinya, dan mengapa hal ini menjadi titik balik keselamatan umat manusia?
Jika kamu pernah bertanya-tanya tentang esensi dari hari raya suci ini, artikel ini akan mengajak kamu mengupas tuntas makna spiritualnya, meluruskan perbedaannya dengan kebangkitan Paskah, serta melihat bagaimana gereja merayakannya di masa kini.
Banyak orang awam masih sering bingung membedakan antara hari raya Paskah dan hari Kenaikan.
Secara sederhana, Paskah adalah momen di mana Yesus bangkit dari kematian pada hari ketiga setelah penyaliban.
Sementara itu, Kenaikan adalah peristiwa terangkatnya fisik Yesus Kristus ke awan-awan menuju surga, yang disaksikan langsung oleh para murid-Nya di Bukit Zaitun, dekat wilayah Yerusalem.
Menariknya, peristiwa kenaikan ini tidak terjadi secara tiba-tiba sesaat setelah Ia bangkit. Berdasarkan catatan sejarah Alkitab, terdapat rentang waktu tepat 40 hari antara Paskah dan Kenaikan.
Angka 40 ini bukanlah sebuah kebetulan matematis semata. Dalam tradisi teologis, rentang waktu tersebut melambangkan masa persiapan yang sangat penting.
Selama 40 hari tersebut, Yesus menampakkan diri berulang kali untuk meyakinkan para pengikut-Nya yang sempat ragu bahwa Ia benar-benar hidup.
Ia menggunakan waktu krusial ini untuk memberikan pengajaran terakhir dan memperkuat mental mereka sebelum akhirnya Ia kembali ke sisi Bapa.
Peristiwa terangkatnya Yesus ke surga tidak hanya menakjubkan secara visual, tetapi juga membawa pesan teologis yang sangat mendalam.
Pertama, momen ini menandakan penyempurnaan karya keselamatan yang telah Ia jalani di bumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Yayasan Xaverius Tanjungkarang