Senin, 11 MEI 2026 • 15:50 WIB

Mengingat Jasa Florence Nightingale di Balik Hari Perawat Internasional Setiap Tanggal 12 Mei

Author

Florence Nightingale (Florence Healthcare International)

JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kacaunya sebuah rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan tanpa kehadiran sosok perawat yang sigap?

Menjelang tanggal 12 Mei, kita kembali diajak untuk merenung sejenak dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pahlawan kesehatan di sekitar kita. 

Tepat pada tanggal tersebut, seluruh dunia bersatu merayakan Hari Perawat Internasional. Peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial belaka, melainkan momen historis untuk menghormati dedikasi para perawat yang terbukti menjadi garda terdepan dalam sistem kesehatan global.

Di balik perayaan akbar ini, ada satu nama besar yang pantang kita lupakan, yakni Florence Nightingale, tokoh revolusioner yang diakui secara luas sebagai pelopor ilmu keperawatan modern di dunia.

Awal Mula Hari Perawat dan Warisan Florence Nightingale

Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa perayaan global ini harus jatuh pada tanggal 12 Mei? Pemilihan tanggal ini ternyata tidak dilakukan secara sembarangan atau kebetulan semata.

Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan langsung dengan hari kelahiran Florence Nightingale pada tahun 1820.

Beliau adalah sosok tangguh yang berani mengubah paradigma medis pada zamannya, serta meletakkan standar dasar keperawatan profesional yang ramah, higienis, dan terstruktur yang masih kita gunakan hingga saat ini.

Gagasan untuk memiliki satu hari khusus demi mengapresiasi jasa perawat sebenarnya sudah bergaung sejak pertengahan abad ke-20.

Pada tahun 1953 silam, seorang pejabat bernama Dorothy Sutherland dari Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan Amerika Serikat mengajukan usul resmi kepada Presiden Dwight D. Eisenhower untuk menetapkan "Hari Perawat".

Sayangnya, usulan brilian tersebut belum mendapat persetujuan kala itu.

Namun, perjuangan tidak berhenti begitu saja. Organisasi keperawatan dunia, International Council of Nurses (ICN), akhirnya mengambil inisiatif mandiri untuk mulai merayakan Hari Perawat Internasional secara konsisten pada tanggal 12 Mei 1965.

Konsistensi dari ICN ini membuahkan hasil manis. Pada bulan Januari 1974, ICN secara resmi menetapkan dan mengukuhkan tanggal 12 Mei sebagai agenda peringatan tahunan global yang wajib dirayakan demi menghormati peran vital perawat.

Baca juga: PPNI Aceh Salurkan Bantuan bagi Sejawat Perawat Terdampak Banjir Sumatra

Jejak Panjang Sejarah Keperawatan di Indonesia

Lantas, bagaimana cerita perkembangan profesi mulia ini di Tanah Air kita sendiri? Di Indonesia, jejak ilmu keperawatan rupanya sudah mulai terbentuk sejak abad ke-18 pada masa penjajahan Belanda.

Salah satu tonggak sejarah paling penting adalah berdirinya Rumah Sakit Stadverband di Jakarta pada tahun 1819, yang seiring berjalannya waktu bertransformasi menjadi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang kita kenal saat ini.

Pada era tersebut, tenaga perawat umumnya direkrut langsung dari penduduk pribumi dan mereka dikenal luas dengan sebutan "Verpleger".

Setelah proklamasi kemerdekaan, pendidikan keperawatan di Indonesia mulai ditata secara lebih formal dan modern.

Tepat pada tahun 1962, Departemen Kesehatan mengambil langkah besar dengan mendirikan Akademi Keperawatan pertama di Jakarta.

Kemajuan ini semakin terstruktur dengan lahirnya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada tahun 1972, yang menjadi payung organisasi profesi resmi untuk mewadahi perawat di seluruh penjuru Indonesia.

Baca juga: Menaker Berharap Semakin Banyak Tenaga Perawat Indonesia Bekerja di Jerman Melalui Program Triple Win

Pesan Inspiratif untuk Masa Depan Pahlawan Kesehatan

Dewasa ini, peran perawat sudah sangat berkembang melampaui tugas sekadar merawat pasien di bangsal.

Mereka kini menjadi edukator kesehatan masyarakat yang handal, motor penggerak penelitian, hingga mitra strategis dalam merumuskan kebijakan kesehatan daerah.

Mengutip pesan mendalam dari Prof. Dr. Rr. Tutik Sri Hariyati, S.Kp., MARS, FISQua, CHAE, Guru Besar Keperawatan di Indonesia sekaligus pendiri Wisma Caring Sejahtera (WICATERA): "Perawat adalah fondasi kesehatan bangsa. Terus maju Perawat Indonesia. Raih pendidikan tinggi karena pendidikan adalah awal peradaban, dan tetap care setinggi apa pun pendidikanmu."

Pesan tersebut seolah menjadi alarm pengingat bagi kita semua. Merayakan Hari Perawat Internasional tidak hanya sebatas mengenang warisan sejarah Florence Nightingale.

Lebih dari itu, momentum ini adalah doa dan dorongan nyata agar para perawat mendapatkan porsi perhatian yang lebih baik dari sisi kesejahteraan.

Mereka berhak atas jam dan beban kerja yang seimbang, peningkatan fasilitas rumah sakit, serta perlindungan hukum yang sangat memadai.

Hanya dengan dukungan sistem yang kuat dan ilmu yang terus berkembang, perawat bisa senantiasa memberikan layanan prima, profesional, dan penuh empati bagi masyarakat luas.

Selamat menyambut Hari Perawat Internasional!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU