Dominasi Asia Timur Hingga Middle East, Berikut Daftar Lengkap Tim Asia di FIVB Men’s Club World Championship dari Masa ke Masa!
JAKARTA - Pernahkah kamu membayangkan betapa sengitnya persaingan bola voli putra di kancah global?
Bagi para pecinta voli, ajang FIVB Men's Club World Championship (Kejuaraan Dunia Antarklub Bola Voli Putra) adalah panggung tertinggi yang mempertemukan klub-klub raksasa dari seluruh dunia.
Sejak pertama kali digelar pada tahun 1989, pertanyaan tentang siapa tim yang sukses mewakili Asia selalu menjadi sorotan yang menarik untuk dibahas.
Berdasarkan data dari laman Volleybox, perjalanan wakil Asia di turnamen bergengsi internasional ini menunjukkan dinamika kekuatan yang sangat luar biasa.
Mengapa tren ini penting untuk diikuti? Karena peta kekuatan voli Asia terus bergeser.
Mulai dari dominasi awal negara-negara Asia Timur, transisi menuju hegemoni Middle East (Timur Tengah), hingga momen bersejarah dan membanggakan ketika klub kebanggaan Indonesia akhirnya berhasil menembus turnamen ini pada edisi tahun 2026!
Bagaimana sepak terjang mereka dari masa ke masa? Mari kita bedah bersama.
Baca juga: Daftar 7 Tim Peserta FIVB Men’s Club World Championship, Ada Wakil Indonesia!
Wajah Asia Timur Mulai Bermunculan di Panggung Dunia
Pada periode awal bergulirnya turnamen ini, tim-tim asal Asia Timur menjadi pionir yang membuka jalan.
Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan jadi wajah Asia yang berani unjuk gigi di tengah dominasi klub-klub Eropa dan Amerika Selatan.
Hal ini bermula pada edisi 1989 di Parma, Italia, saat Nippon Steel Sakai (sekarang Osaka Blazers Sakai) dari Jepang menjadi wakil perdana dengan menempati peringkat ke-5. Setahun berselang di Milan, wakil Jepang lainnya, JT Thunders Hiroshima, harus puas di posisi ke-8.
Selanjutnya, Timnas Taiwan mencatatkan peringkat ke-5 pada edisi 1991, dan Seongnam Sangmu Shinhyup asal Korea Selatan meraih posisi ke-6 pada edisi 1992.
Kejayaan Klub Iran dan Qatar
Setelah kompetisi ini sempat vakum, FIVB menghidupkannya kembali pada tahun 2009 dengan Qatar sering didapuk sebagai tuan rumah empat edisi berturut-turut (2009-2012).
Di era inilah, klub-klub dari kawasan Timur Tengah atau Middle East mulai mengambil alih kemudi dan mendominasi slot perwakilan Asia.
Paykan Tehran VC (Iran) tampil sangat konsisten. Mereka tidak hanya langganan ikut, tapi juga sukses meraih peringkat ke-3 pada edisi 2010.
Baca juga: Apa Itu FIVB Men's Club World Championship? Sejarah dan Debut Membanggakan Tim Indonesia
Namun, kejutan terbesar datang dari wakil Iran lainnya, Matin Varamin VC, yang sukses menembus final dan menjadi Runner-up pada edisi 2014 di Brasil.
Klub-klub Qatar seperti Al-Arabi dan Al-Rayyan juga nggak mau kalah pamor, bergantian mewakili Asia bersama klub Iran lainnya seperti Kalleh Mazandaran, Sarmayeh Bank, dan Foolad Sirjan Iranian.
Nah, di era ini juga diwarnai sedikit drama, misalnya saat Paykan Tehran VC menggantikan Matin Varamin yang tiba-tiba mundur pada edisi 2015, atau Al-Rayyan yang maju menggantikan Shahrdari Varamin karena sanksi banned dari FIVB pada 2019.
Sesekali, Asia Timur mencuri slot lewat Taichung Bank Club (Taiwan) di edisi 2016 dan Shanghai Golden Age (sekarang Shanghai Bright VC) dari Tiongkok di edisi 2017.
Kebangkitan Klub Jepang dan Sejarah Baru Indonesia
Memasuki tiga edisi terakhir, pendulum kekuatan kembali mengarah ke Asia Timur, namun diimbangi oleh kebangkitan tim dari region lain.
Pada 2023 di India, wakil tuan rumah Ahmedabad Defenders VC bersaing bersama Suntory Sunbirds VC (Jepang) yang sukses menyabet peringkat ke-3.
Puncaknya, Osaka Bluteon VC (Jepang) tampil sensasional sebagai Runner-up pada tahun 2025 di Belem, Brasil.
Sementara itu, Iran tetap menakutkan lewat Foolad Sirjan Iranian yang meraih juara ke-3 pada 2024.
Nah, kabar paling epik bagi kamu pecinta voli Tanah Air akhirnya tiba di tahun 2026!
Jakarta Bhayangkara Presisi sukses mencetak sejarah sebagai klub Indonesia pertama yang melangkah ke FIVB Men's Club World Championship.
Bersama Foolad Sirjan Iranian yang kembali terjun ke ajang tersebut untuk ketiga kalinya, Jakarta Bhayangkara Presisi siap membawa nama harum benua Asia, meski lokasi tuan rumah 2026 ini belum diumumkan secara resmi oleh FIVB.
Dari perjalanan Nippon Steel di 1989 hingga masuknya Jakarta Bhayangkara Presisi di 2026, terbukti bahwa kualitas voli Asia semakin merata dan diperhitungkan dunia.
Kehadiran wakil Indonesia tentu menjadi bukti nyata bahwa pembinaan voli kita ada di jalur yang tepat.
Pasti kamu sudah tidak sabar melihat seberapa jauh Bhayangkara Presisi bisa melangkah, kan?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Volleybox